BOGOR, FisMat-C.com — Putera Sampoerna Foundation bekerja sama dengan ExxonMobil meluncurkan sekolah berasrama jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan berstandar internasional pertama di Indonesia. Sekolah ini khusus diperuntukkan bagi siswa dan siswi berprestasi dari keluarga prasejahtera di seluruh Indonesia.
Managing Director Putera Sampoerna Foundation Nenny Soemawinata mengatakan, ada sebanyak 200 siswa dan siswi yang telah lolos melewati tahapan seleksi ketat dan berhasil menyisihkan lebih dari 1.000 pendaftar dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan beasiswa penuh dengan nilai total sebesar 3,15 juta dollar AS dari ExxonMobil Foundation.
"Beasiswa itu untuk membiayai pendidikan selama tiga tahun selama menempuh pendidikan di Sampoerna Academy Bogor Campus," kata Nenny, Kamis (21/7/2011), di Sampoerna Academy Bogor Campus, Caringin, Bogor.
Para siswa dan siswi yang terpilih adalah mereka yang telah menyisihkan lebih dari 1.000 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Proses seleksi dibagi dalam lima tahap seleksi yang ketat, yakni seleksi dokumen, tes akademis, tes psikologi, tes wawancara, focus group discussion (FGD), serta kunjungan ke rumah calon siswa (home visit).
"Masyarakat membutuhkan pengembangan kualitas dan kesempatan memperoleh pendidikan untuk melahirkan pemimpin masa depan terbaik di Indonesia. Melalui sekolah ini, kami ingin memberikan kesempatan bagi para siswa berprestasi yang kurang mampu sehingga mereka dapat membawa perubahan positif bagi keluarga, komunitas, dan daerah asal mereka," tutur Nenny.
Sampoerna Academy Bogor Campus terdiri atas siswa-siswi dari seluruh pelosok daerah di Indonesia, antara lain Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Papua Barat. Selain itu, sejumlah siswa ataupun siswi ada juga yang berasal dari wilayah operasi ExxonMobil, di antaranya Blora, Cepu, dan Bojonegoro, Jawa Timur.
"Kami sengaja ingin menciptakan kultur keragaman budaya di Sampoerna Academy sehingga mereka juga dapat belajar untuk saling menghormati perbedaan budaya dan menghargainya," jelas Nenny.
Lebih jauh Nenny menjelaskan, Sampoerna Academy ini mengadaptasi kurikulum pendidikan berskala internasional dari Cambridge University dengan kurikulum nasional atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
"Konsep pendidikan kami juga adalah pendidikan asrama atau boarding education," katanya.
Sementara itu, Bupati Bogor, Rahmat Yasin mengatakan, pihaknya sangat mendukung dengan dibukanya sekolah Sampoerna Academy Bogor Campus di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia berharap sekolah ini kelak dapat mencetak lebih banyak siswa dan siswi berprestasi dan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya agar kualitas pendidikan di Indonesia terus meningkat.
"Kami juga sudah menyimak, bahwa siswa-siswi Sampoerna tidak hanya pintar secara akademis, tetapi memiliki jiwa kepemimpinan dan rasa tanggung jawab sosial yang tinggi," ungkapnya.
Sebagai informasi, Putera Sampoerna Foundation pada tahun 2009 sudah membuka Sampoerna Academy di Malang dan Palembang, di mana siswa dan siswi di Malang mayoritas berasal dari wilayah Jawa Timur, sedangkan siswa siswi di Palembang berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Total keseluruhan siswa siswi di seluruh Sampoerna Academy saat ini mencapai 993 siswa dengan 525 siswa dan siswi baru angkatan 2011/2012. Tahun ini, Putera Sampoerna Foundation berencana untuk meresmikan Sampoerna Academy di Bali.
sumber: sini
Kamis, 21 Juli 2011
Pembahasan Soal SIMAK UI 2011 (no. 30 kode soal:615)
Lempeng konduktor memiliki kerapa tan muatan dan bola konduktor bermassa mbermuatan +q digantungkan pada lempeng tersebut dengan benang sutra panjang l. sudut yang terbentuk kecil sekali, seperti pada tampak pada gambar. Nilai x adalah….
jawab:
Selemgkapnya ada disini
Rabu, 20 Juli 2011
7 T Untuk Dana Abadi Pendidikan
JAKARTA, FisMat-c - Setiap tahunnya, sejak awal tahun 2011, mendepositokan Anggaran Pembelanjaan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 1 triliun setiap tahunnya. Menteri Pendidikan Nasional M Nuh mengatakan, dana itu disebut dana abadi, yang akan dimanfaatkan untuk menyiasati kebutuhan biaya pendidikan nasional yang sangat besar. Pada tahun 2014 mendatang, dana abadi ini ditargetkan sudah mencapai Rp 5 - Rp 7 triliun.
"Nanti mudah-mudahan dalam APBN-Perubahan bisa ditambahkan sebanyak Rp 1 sampai 2 triliun lagi. Itu harapan kita. Bayangan saya, nanti di tahun 2014 atau tiga tahun lagi dana abadi bisa mencapai Rp 5 sampai 7 triliun," ujar Nuh, kepada Kompas.com, di Jakarta, Rabu (20/7/2011).
Dengan dana sebesar Rp 2 triliun, berarti setiap tahun Kemdiknas mendapatkan bunga sebesar Rp 70 miliar. Bunga itulah yang akan dipakai untuk membiayai pendidikan. Sementara dana induknya, tetap tidak boleh digunakan dengan alasan apa pun dan terus ditambah minimal Rp 1 triliun setiap tahunnya.
"Induknya tetap tidak boleh dikutak-kutik. Yang diambil bunganya saja. Kalau Rp 2 triliun dapat Rp 70 miliar, Rp 4 triliun dapat Rp 140 miliar, Rp 5 triliun dapat sekitar Rp 200 miliar. Nantinya paling tidak ada sekitar Rp 250 miliar yang bisa dipakai untuk memobilisasi anak-anak studi ke luar negeri," tandas Nuh.
Ia meyakini, dana abadi yang sifatnya fleksibel dapat menjadi jalan keluar ketika dana APBN terlambat dicairkan.
sumber disini
Program SP3 2011 Kirim 1000 Sarjana Ke Pedesaan
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama perguruan tinggi di 33 provinsi melakukan kerja sama untuk mengirim 1.000 sarjana pada 2011 ke pedesaan dalam program pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (SP3).
"Mereka akan berada di desa selama dua tahun untuk menggerakkan desa. Bisa jadi guru, pelatih olahraga, membantu pertanian atau peternakan," kata Menpora Andi Mallarangeng di sela rakor program SP3 dan penandatanganan MOU Menpora dengan 33 rektor perguruan tinggi di Jakarta, Rabu (20/7/2011).
Andi mengatakan, MOU tersebut merupakan revitalisasi program SP3. Bentuk revitalisasi itu, antara lain, dengan melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dalam merekrut dan menempatkan para sarjana.
"Dulu tidak melibatkan perguruan tinggi. Yang merekrut dinas pemuda dan olahraga. Banyak kampus tidak tahu program ini," katanya.
Selain itu, katanya, saat ini sarjana akan ditempatkan bukan di daerah asalnya. "Dulu ditempatkan di kampung halaman mereka," ujar Andi.
Andi mengatakan, para sarjana yang mengikuti program ini akan mendapatkan biaya hidup minimal. Oleh sebab itu, katanya, sarjana yang mengikuti program ini adalah yang mempunyai keinginan dan spirit untuk membangun desa.
Ia mengharapkan, dengan adanya program SP3 ini paling tidak mendapatkan dua manfaat. Pertama, nilai tambah untuk membangun desa. Kedua, para sarjana yang mengikuti program dapat membangun kemampuan diri serta menjadi mengenal dan mencintai desa.
Perguruan tinggi yang melakukan kerja sama, antara lain, Institut Pertanian Bogor, Universitas Udayana, Universitas Bengkulu, Universitas Mulawarman, Universitas Hasanuddin, Universitas Pattimura, Universitas Andalas, Universitas Lampung, Universitas Lambung Mangkurat, dan Universitas Negeri Gorontalo.
SP3 dimulai sejak tahun 1989 sebagai wujud keprihatinan pemerintah terhadap fenomena tingginya angka pengangguran pemuda di pedesaan dan banyaknya lulusan perguruan tinggi yang menjadi pencari kerja di perkotaan.
sumber: sini
Jumat, 08 Juli 2011
Situ Resmi Kami
Situs resmi kami pindah ke alamat di bawah ini. Silakan klik link di bawah ini. Terima kasih.
Selasa, 14 Juni 2011
Ada 400 Kursi Beasiswa ke Australia Untuk Pegawai Negeri Kota Malang
MALANG, FisMat C++ Kabar gembira datang untuk Pegawai Negeri Kota Malang, Jawa Timur. Bagi yang tak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi untuk S2 dan S3, pihak Developments Scholarship (ADS) Australia memberikan peluang beasiswa S2 dan S3 ke Australia.
Menurut Perwakilan Duta Besar Indonesia untuk Australia, Nunik kepada wartawan di Malang, Selasa (14/6/2011), Pemerintah Indonesia sudah bekerjasama dengan pemerintah Australia dalam hal beasiswa untuk S2 dan S3.
"Dalam kerjasama tersebut, diputuskan total beasiswa untuk S2 dan S3 seluruh Indonesia ada 400 orang. Sementara dari total itu, untuk Pegawai negeri Sipil (PNS) di Kota Malang, mendapat jatah sebanyak 226 orang," katanya.
Adapun sisa dari 226 orang itu katanya diambilkan dari kalangan umum, bukan PNS. "Silahkan siapa saja berhak untuk mengikutinya. Nanti akan diseleksi sesuai dengan ketentuan yang ada. Kalau lulus, akan diberangkatkan dan berhak mendapat beasiswa," terangnya.
Beasiswa tersebut, kata Nunik, diberikan untuk bidang-bidang studi yang menunjang tujuan peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) untuk Indoinesia. "Misalnya, tentang pertumbuhan ekonomi, tentang demokrasi, soal keamanan dan perdamaian," katanya.
Pendaftaran program beasiswa untuk mengikuti seleksi dibuka sejak 6 Juni lalu hingga 26 Agustus 2011. "Untuk persyaratan diantaranya, usia maksimal 42 tahun, IPK minimal 2,9, dan TOEFL minimal 500," ujarnya.
sumber: sini
Anis Baswedan: Permalukan Daerah Yang Mendukung Nyontek Masal
FisMat C++,JAKARTA--Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan meminta media untuk mempermalukan daerah yang anti terhadap upaya perbaikan pendidikan di dalam negeri. Hal itu menyikapi intimidasi kelompok masyarakat terhadap pengadu mencontek masal di SDN Gadel 2 Surabaya.
"Mari media permalukan tempat itu, kan ini masalahnya bukan pada dinasnya kan. Tapi justru pada rakyat,"ujar Anis, di kantor Wapres, Selasa (14/6).
Menurut Anis mereka bisa dilabeli pembela ketidakjujuran. Mereka adalah para pembela ketidakjujuran, pembela koruptor . "Berikan sorotan pada mereka-mereka yang memerangi kejujuran, soroti karena pasti malu,"jelasnya.
Anis menilai banyak orang yang sudah tidak mempunyai rasa malu. "Banyak orang yang sudah tidak punya malu kan, tapi kalau rakyat banyak punya malu,"terangnya.
Oleh karena itu, media memiliki peran ini. Dia berharap media membuat reportase tentang kebobrokan tempat itu. "Bikin reportase khusus, jadikan cerita khusus, biarkan tempat itu malu, dan jadi perhatian,"ucapnya.
sumber: sini
Dinas Pendidikan Jabar Larang TK Untuk Belajar Calistung
FisMat C++, Bandung -Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat melarang guru taman kanak-kanak (TK) mengajarkan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung). "Dinas Pendidikan tidak menolerir anak TK belajar calistung. Kami sudah buat surat edarannya," kata Asep Rachmat dari Tim Pengembangan Kurikulum Dinas Pendidikan Jawa Barat, Senin, 13 Juni 2011.
Menurut Asep, sekolah dasar (SD) juga dilarang menerima siswa baru dengan syarat tes akademik. Tes itu berupa membaca, menulis, dan berhitung. "Kalau ada tes akademik masuk SD, perlu diberi sanksi keras," kata Asep menjawab pertanyaan guru TK di acara seminar Junior Scientist Award di Bandung, Senin, 13 Juni 2011.
Tes yang dibolehkan hanya potensi akademik atau psikotes. Tes itu berupa pengenalan bentuk benda atau warna oleh lulusan TK. Asep mengatakan, ada guru SD yang mau enak dengan menerima siswa baru yang sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Selain guru SD, orang tua juga banyak yang menuntut agar anaknya sudah bisa calistung di TK. Jika keinginan itu tidak dipenuhi, kata dia, TK bisa jadi kekurangan peminat. "Masalahnya, banyak pihak yang menuntut untuk belajar instan," ujar Asep.
Pengajar di Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Jawa Barat, Anna Musdalifah, mengatakan sebagian besar SD di Bandung hanya mau menerima lulusan TK yang sudah bisa calistung. Padahal pelajaran itu sebenarnya tidak ada dalam kurikulum TK. "Harusnya cuma bernyanyi, bermain, dan bercerita, dengan metode belajar yang menyenangkan untuk anak," kata Anna.
Cara itu menyesuaikan perkembangan otak anak. Di masa usia emas anak, ujar pengelola TK Mutiara Hati di Bandung itu, otak anak perlu rangsangan agar pertumbuhan otaknya maksimal. Dari beberapa contoh, dampak negatif anak yang dipaksakan belajar akan bermasalah saat duduk di bangku SD. "Anak jadi malas belajar terutama saat kelas 3 atau 4 karena merasa jenuh dan bosan," kata Anna.
ANWAR SISWADI
sumber: sini
Menurut Asep, sekolah dasar (SD) juga dilarang menerima siswa baru dengan syarat tes akademik. Tes itu berupa membaca, menulis, dan berhitung. "Kalau ada tes akademik masuk SD, perlu diberi sanksi keras," kata Asep menjawab pertanyaan guru TK di acara seminar Junior Scientist Award di Bandung, Senin, 13 Juni 2011.
Tes yang dibolehkan hanya potensi akademik atau psikotes. Tes itu berupa pengenalan bentuk benda atau warna oleh lulusan TK. Asep mengatakan, ada guru SD yang mau enak dengan menerima siswa baru yang sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Selain guru SD, orang tua juga banyak yang menuntut agar anaknya sudah bisa calistung di TK. Jika keinginan itu tidak dipenuhi, kata dia, TK bisa jadi kekurangan peminat. "Masalahnya, banyak pihak yang menuntut untuk belajar instan," ujar Asep.
Pengajar di Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Jawa Barat, Anna Musdalifah, mengatakan sebagian besar SD di Bandung hanya mau menerima lulusan TK yang sudah bisa calistung. Padahal pelajaran itu sebenarnya tidak ada dalam kurikulum TK. "Harusnya cuma bernyanyi, bermain, dan bercerita, dengan metode belajar yang menyenangkan untuk anak," kata Anna.
Cara itu menyesuaikan perkembangan otak anak. Di masa usia emas anak, ujar pengelola TK Mutiara Hati di Bandung itu, otak anak perlu rangsangan agar pertumbuhan otaknya maksimal. Dari beberapa contoh, dampak negatif anak yang dipaksakan belajar akan bermasalah saat duduk di bangku SD. "Anak jadi malas belajar terutama saat kelas 3 atau 4 karena merasa jenuh dan bosan," kata Anna.
ANWAR SISWADI
sumber: sini
M Nuh Resmikan Rumah Sakit Unair
FisMat C++, Surabaya - Setelah mulai didirikan sejak tahun 2007 lalu, Rumah Sakit Universitas Airlangga (Unair) mulai hari ini siap dioperasikan. Pengoperasian ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan M. Nuh dan Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi selaku Ketua Majelis Wali Amanah Airlangga, siang tadi.
Direktur Rumah Sakit Unair Prof. dr .Dikman Angsar, SpOG. menuturkan bahwa pembangunan rumah sakit ini bukan untuk menyaingi Rumah Sakit Dr. Soetomo yang selama ini dijadikan tempat praktek mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair. "Rumah Sakit Unair kita fokuskan sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan, ini bisa mengurangi penumpukan pasien di beberapa rumah sakit," kata Dikman.
Saat ini RS Unair dibangun secara bertahap. Tahun 2007 dibangun gedung senilai Rp 9 miliar, tahun 2008 senilai Rp 6 miliar, dan tahun 2009 senilai Rp 312 miliar, dengan rincian Rp 31 miliar untuk pembangunan fisik gedung dan sisanya untuk membeli peralatan medis. Sementara itu, tahun lalu juga dilakukan perluasan bangunan dengan biaya Rp 130 miliar.
RS Unair dibangun di sisi gedung Rektorat Unair di kawasan Mulyorejo di lahan seluas 60 ribu meter persegi dengan total bangunan 40 ribu meter persegi dan memiliki delapan lantai.
Meskipun belum sepenuhnya rampung, rumah sakit ini sudah mulai beroperasi dan dilengkapi dengan 64 tempat tidur dan 110 tenaga medis, mulai dari perawat, dokter, hingga guru besar. "Para dokter senior di RSUD Dr. Soetomo juga membantu," imbuh dia.
Untuk menyelesaikan total pembangunan, rumah sakit ini masih memerlukan anggaran sekitar Rp 120 miliar lagi. "Mudah-mudahan dananya bisa cair (dari APBN) tahun ini," kata dia.
Meskipun belum rampung sepenuhnya, dari delapan lantai, setidaknya empat lantai saat ini sudah bisa dioperasikan dengan berbagai peralatan modern, seperti lima alat bedah jantung serta enam alat radiologi.
Menteri Pendidikan Muhammad Nuh meminta RS Unair agar bisa menjadipioneer rumah sakit pendidikan untuk pengembangan riset kedokteran. "Rumah sakit ini harus pegang dua kartu, satu pendidikan, satunya kesehatan," katanya.
Nuh sendiri berjanji akan memperjuangkan kebutuhan dana sebesar Rp 120 Miliar yang dibutuhkan RS Unair.
Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi selaku Ketua Majelis Wali Amanah Unair meminta rumah sakit ini juga harus mengedepankan pengabdian kepada masyarakat. "Rumah sakit ini jangan melupakan pengabdian kepada masyarakat," kata Sudi.
sumber: sini
Direktur Rumah Sakit Unair Prof. dr .Dikman Angsar, SpOG. menuturkan bahwa pembangunan rumah sakit ini bukan untuk menyaingi Rumah Sakit Dr. Soetomo yang selama ini dijadikan tempat praktek mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair. "Rumah Sakit Unair kita fokuskan sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan, ini bisa mengurangi penumpukan pasien di beberapa rumah sakit," kata Dikman.
Saat ini RS Unair dibangun secara bertahap. Tahun 2007 dibangun gedung senilai Rp 9 miliar, tahun 2008 senilai Rp 6 miliar, dan tahun 2009 senilai Rp 312 miliar, dengan rincian Rp 31 miliar untuk pembangunan fisik gedung dan sisanya untuk membeli peralatan medis. Sementara itu, tahun lalu juga dilakukan perluasan bangunan dengan biaya Rp 130 miliar.
RS Unair dibangun di sisi gedung Rektorat Unair di kawasan Mulyorejo di lahan seluas 60 ribu meter persegi dengan total bangunan 40 ribu meter persegi dan memiliki delapan lantai.
Meskipun belum sepenuhnya rampung, rumah sakit ini sudah mulai beroperasi dan dilengkapi dengan 64 tempat tidur dan 110 tenaga medis, mulai dari perawat, dokter, hingga guru besar. "Para dokter senior di RSUD Dr. Soetomo juga membantu," imbuh dia.
Untuk menyelesaikan total pembangunan, rumah sakit ini masih memerlukan anggaran sekitar Rp 120 miliar lagi. "Mudah-mudahan dananya bisa cair (dari APBN) tahun ini," kata dia.
Meskipun belum rampung sepenuhnya, dari delapan lantai, setidaknya empat lantai saat ini sudah bisa dioperasikan dengan berbagai peralatan modern, seperti lima alat bedah jantung serta enam alat radiologi.
Menteri Pendidikan Muhammad Nuh meminta RS Unair agar bisa menjadipioneer rumah sakit pendidikan untuk pengembangan riset kedokteran. "Rumah sakit ini harus pegang dua kartu, satu pendidikan, satunya kesehatan," katanya.
Nuh sendiri berjanji akan memperjuangkan kebutuhan dana sebesar Rp 120 Miliar yang dibutuhkan RS Unair.
Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi selaku Ketua Majelis Wali Amanah Unair meminta rumah sakit ini juga harus mengedepankan pengabdian kepada masyarakat. "Rumah sakit ini jangan melupakan pengabdian kepada masyarakat," kata Sudi.
sumber: sini
Pendidikan Multikultural Hilang Dalam Mata Pelajaran PKn
FisMat C++, Jakarta -Buku Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMA kelas X, IX, dan XI di berbagai sekolah di Jakarta, tidak satu pun yang menyebut istilah multikultural dalam uraian materinya. Kesimpulan ini diambil dari hasil penelitian Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina terhadap 21 buku PKn dari 9 penerbit.
Retno Listyarti, peneliti IER, mengungkapkan bahwa kondisi ini jadi masalah karena dari hasil survey, sebagian besar guru tak bisa lepas dari buku teks.
Tak disebutnya secara eksplisit istilah multikultural dalam buku teks PKn dinilai berimplikasi pada praktek pembelajaran guru di kelas yang tidak juga membahas multikulturalisme kepada siswa.
"Kondisi ini diindikasi sebagai salah satu penyebab mengapa radikalisme menguat di kalangan generasi muda," kata Retno, Selasa, 14 Juni 2011 saat menjadi narasumber dalam Seminar Hasil Penelitian Buku Teks PKn SMA dan Refleksi Praktek Pembelajaran Multikultural.
Retno menilai, wajar buku-buku teks PKn tak memasukkan istilah multikultural. Sebabnya, dari hasil penelusurannya, istilah multikultural memang tak ada dalam Standar Kurikulum dan Kompetensi Dasar (SKKD) PKn. Istilah tersebut justru ditemukan dalam buku Sosiologi. Peraturan di Indonesia yang memayungi pelaksanaan pendidikan multikultural dalam pendidikan formal juga sangat minim.
Istilah pendidikan formal ditemukan dalam Peraturan Presiden No. 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (2009-2014). "Namun, sayangnya arah kebijakan pendidikan ini justru tidak diuraikan secara nyata dalam berbagai peraturan terkait kebijakan pendidikan di Indonesia," tutur Retno.
Meski demikian, menurut Retno, ada banyak pintu masuk bagi pengajaran multikulturalime dalam berbagai materi pembahasan mata pelajaran PKn. Pintu masuk ini seharusnya bisa dimanfaatkan pengajar.
Di kelas X SMA, nilai multikultural bisa masuk dalam pembahasan Harkat Martabat Manusia, Isu Gender, dan persamaan kedudukan warga negara. Sementara di kelas XI, nilai multikultural bisa dibahas saat menganalisis budaya demokrasi di Indonesia serta sistem hukum dan peradilan internasional. Sedangkan di kelas XII, multikultural bisa dibahas dalam materi tentang Pancasila sebagai ideologi terbuka dan globalisasi.
sumber: sini
Retno Listyarti, peneliti IER, mengungkapkan bahwa kondisi ini jadi masalah karena dari hasil survey, sebagian besar guru tak bisa lepas dari buku teks.
Tak disebutnya secara eksplisit istilah multikultural dalam buku teks PKn dinilai berimplikasi pada praktek pembelajaran guru di kelas yang tidak juga membahas multikulturalisme kepada siswa.
"Kondisi ini diindikasi sebagai salah satu penyebab mengapa radikalisme menguat di kalangan generasi muda," kata Retno, Selasa, 14 Juni 2011 saat menjadi narasumber dalam Seminar Hasil Penelitian Buku Teks PKn SMA dan Refleksi Praktek Pembelajaran Multikultural.
Retno menilai, wajar buku-buku teks PKn tak memasukkan istilah multikultural. Sebabnya, dari hasil penelusurannya, istilah multikultural memang tak ada dalam Standar Kurikulum dan Kompetensi Dasar (SKKD) PKn. Istilah tersebut justru ditemukan dalam buku Sosiologi. Peraturan di Indonesia yang memayungi pelaksanaan pendidikan multikultural dalam pendidikan formal juga sangat minim.
Istilah pendidikan formal ditemukan dalam Peraturan Presiden No. 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (2009-2014). "Namun, sayangnya arah kebijakan pendidikan ini justru tidak diuraikan secara nyata dalam berbagai peraturan terkait kebijakan pendidikan di Indonesia," tutur Retno.
Meski demikian, menurut Retno, ada banyak pintu masuk bagi pengajaran multikulturalime dalam berbagai materi pembahasan mata pelajaran PKn. Pintu masuk ini seharusnya bisa dimanfaatkan pengajar.
Di kelas X SMA, nilai multikultural bisa masuk dalam pembahasan Harkat Martabat Manusia, Isu Gender, dan persamaan kedudukan warga negara. Sementara di kelas XI, nilai multikultural bisa dibahas saat menganalisis budaya demokrasi di Indonesia serta sistem hukum dan peradilan internasional. Sedangkan di kelas XII, multikultural bisa dibahas dalam materi tentang Pancasila sebagai ideologi terbuka dan globalisasi.
sumber: sini
Langganan:
Postingan (Atom)





