Sabtu, 06 Agustus 2011

Sulit Untuk Wujudkan Wajib Belajar 12 Tahun

Les Privat UI - Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) melalui Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Hamid Muhammad mengaku masih ada kesulitan untuk mewujudkan pendidikan wajib belajar 12 tahun.
Ia mengungkapkan, kesulitan utama untuk mewujudkan wajib belajar 12 tahun adalah terbatasnya anggaran yang dialokasikan Kemendiknas kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah.
Berdasarkan penjelasannya, tahun ini Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah hanya mendapatkan porsi anggaran sekitar Rp 5 triliun yang berasal dari APBN. Sedangkan untuk mendukung wajib belajar di Pendidikan Dasar, Kemdiknas tercatat sudah menggelontorkan dana Rp 42 triliun yang dibagi ke dalam Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp 18 triliun, Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp 9 triliun dan tambahan dana dari pusat sekitar Rp 15 triliun.
"Itu persoalannya, di Pendidikan Menengah tidak ada subsidi BOS dan sebagainya, karena saat ini semua fokus mensukseskan wajib belajar 9 tahun," kata Hamid di Jakarta, Jumat (5/8/2011).
Hamid menyadari bahwa mutu pendidikan yang berkualitas harus didukung dengan pembiayaan yang mencukupi. Namun, ia mengaku tak ingin keterbatasan anggaran kemudian menjadi beban masyarakat.
Untuk itu ia berjanji akan segera memformulasikan secepat mungkin apa saja yang menjadi keluhan masyarakat. Termasuk mengatur mahalnya biaya pendidikan menengah yang saat ini semakin sulit untuk dikontrol. "Pemerintah harus turun tangan untuk membuat biaya pendidikan menjadi terjangkau, termasuk pemerintah kota dan provinsi," ujarnya.
Ia melanjutkan, saat ini dirinya sedang berupaya untuk meningkatkan anggaran Biaya Operasional Manajemen Mutu (BOMM) agar bisa menjangkau semua anak di pendidikan menengah.
Terlebih karena saat ini ledakan lulusan SMP yang ingin melanjutkan ke jenjang SMA dan SMK begitu besar, maka mau tidak mau pemerintah harus membuka kesempatan pendidikan menengah secara lebar.
"Saat ini BOMM termasuk dalam Rp 5 triliun itu, makanya salah satu yang akan kami dorong itu adalah peningkatan BOMM," terangnya.
Berdasarkan data Kemdiknas, dari 3,7 juta lulusan SMP, yang melanjutkan ke SMA/SMK hanya sekitar 2,2 juta. Sisanya, sebanyak 1,5 juta inilah yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Karena jika tidak diperhatikan secara serius, maka para siswa lulusan SMP ini hanya mempunyai dua pilihan, yaitu menganggur atau bekerja.
"Jika tidak melanjutkan atau tidak mengikuti kursus, yang paling aman kalau mereka bekerja, lulusan SMP itu hanya menjadi TKI atau pekerja kasar. Inilah yang sedang saya bahas dengan Wakil Menteri Pendidikan Nasional," katanya.

sumber: sini

Rasa Khawatir Vena Melinda Terhadap Anjal

Les Privat UI - Menghadapi masalah pendidikan, anak jalanan (anjal) masih menjadi golongan termarjinalkan. Kementerian Pendidikan Nasional diharapkan lebih mempedulikannya.
Hal tersebut diungkapkan Vena Melinda, anggota DPR RI saat melakukan kunjungan reses di Taman Kanak-kanak Dharma Wanita Tosaren II, Kota Kediri, Jawa Timur, Jum'at (5/8/2011).
Menurut Vena, daya jangkau penanganan anjal oleh Kemendiknas masih belum menghasilkan sesuatu yang menggembirakan, bahkan terkesan adanya semacam faktor keterbatasan.
"Sebagai warga negara, mereka (anjal) ini juga mempunyai hak dalam pendidikan. Sementar dari kementerian (kemdiknas), coverage-nya mungkin belum menjangkau," kata Vena Melinda.
Wanita yang mengaku sangat peduli dalam masalah anjal ini menambahkan, selama ini, di kalangan dewan sendiri sudah ada political will dalam menyejahterakan anak jalanan. Salah satunya dengan cara terus mendorong Kemendiknas lebih proaktif dalam menangani pendidikan informal bagi golongan marjinal.
"Dan syukur, dari rapat kerja terakhir, saat saya masih di Komisi X lalu, dua sekolah untuk anjal, yaitu di Bantargebang dan Pejengkolan sudah dipantau Kemdiknas dan operasionalnya juga sudah dibantu," tutur Vena.
Selain kalangan dewan, lanjut Vena, sebenarnya di Indonesia ini tidak kurang jumlah pejuang pendidikan yang mempunyai idealisme dalam memperjuangkan peningkatan kualitas pendidikan. "Namun demikian, eksekutornya kan tetap di Kemediknas," lanjut artis yang terjun ke dunia politik dengan bergabung di Partai Demokrat ini.
Oleh sebab itu, menurutnya, memang diperlukan sebuah gerakan yang dilakukan semua elemen, baik legislatif, eksekutif, maupun masyarakat untuk bersatu padu dalam mengangkat kesejahteraan kalangan minoritas itu. "Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi," pungkas wanita kelahiran Surabaya ini.

sumber: sini

Ketika Pramuka Peduli Akan Isu-Isu Global

Les Privat - Pramuka tidak lagi terbatas pada kegiatan-kegiatan yang memberikan bekal kecakapan hidup bagi generasi muda.
Gerakan pramuka kini juga dipandang potensial, untuk mengajak semua anggota pramuka baik dari kalangan anak-anak muda maupun orang dewasa untuk peduli dan berkontribusi secara nyata dalam berbagai masalah yang dihadapi dunia saat ini dan pada masa mendatang.
Untuk itu, gerakan pramuka di dunia juga berkembang dalam kepedulian terhadap isu-isu global yang menjadi perhatian dunia.
Pramuka juga mesti mengikuti perkembangan dunia saat ini yang mempengaruhi kehidupan setiap orang. Langkah-langkah kecil yang dilakukan anggota Pramuka dan organisasi Pramuka untuk berkontribusi mengubah kehidupan di dunia lebih baik, sejalan dengan insipirasi Bapak Pendiri Pramuka Dunia Robert Baden Powel yang mengatakan "Try to leave this world a little better than you found it" atau cobalah untuk meninggalkan dunia ini sedikit lebih baik dari yang kita temukan.
Dalam pelaksanaan Jambore Pramuka Dunia Ke-22 di Bumi Perkemahan Rinkaby, Kristianstad, Swedia, peserta muda dan dewasa dari 150 negara mendapat sosialisasi mengenai beragam isu-isu global mulai dari perubahan iklim, perdamaian, cara-cara menjalankan hidup yang ramah lingkungan, kerja sama untuk mengatasi masalah kemiskinan, masalah pekerja anak, hingga perlindungan terhadap hak-hak anak. Sosialisasi berbagai isu global tersebut dikemas dalam acara seminar, diskusi, dan permainan.  
Gerakan Pramuka juga terlibat intensif dalam isu perdamaian dunia. Selama pelaksanaan jambore beragam aktivitas dirancang supaya setiap orang mau menjalin persahabatan untuk membangun solidaritas bersama tanpa memandang perbedaan suku bangsa, negara, dan agama.
Gerakan Pramuka telah diakui pengaruhnya bagi perdamaian. Pada tahun 1981, UNESCO menganugerahkan penghargaan Perdamaian pada Gerakan pramuka Dunia. Sebab, Pramuka dipandang berkontribusi penting untuk mendidik anak-anak muda dalam semangat perdamaian, persahabatan, dan persaudaraan.
"Pramuka memberikan petualangan dalam hidup anak-anak muda. Membantu mereka melihat bagaimana seharusnya memandang dunia. Semangat kepramukaan membawa anak-anak muda dunia dapat membuat perubahan dengan mememgang pesan perdamaian. Sebab, Pramuka itu lintas dunia dan budaya, namun tetap memiliki rasa persaudaraan," kata Simon Rhee, Ketua Komite Pramuka Dunia.
Anggota Pramuka muda dan dewasa diajak untuk jadi penyampai pesan perdamaian. Dalam kegiatan Jambore, dukungan tiap anggota Pramuka sebagai duta perdamaian di negara masing-masing disampaikan secara tertulis di stand penyampai pesan perdamaian yang berisi komitmen untuk mulai melakukan langkah-langkah kecil menciptakan perdamaian usai kembali ke negaranya nanti. (Ester Lince Napitupulu, wartawati KOMPAS melaporkan dari Kristianstad, Swedia)

sumber: sini

Rekor MURI Untuk Maba ITB

Les Privat -- BANDUNG - Pelatihan The 7 Habits for New College Students yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Yayasan Dunamis berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori "Pelatihan Mahasiswa Baru Secara Pararel dengan Fasilitator Terbanyak, 135 Fasilitator di 67 Kelas." MURI mencatatkan rekor tersebut, Kamis (4/8/2011), di ITB.
Pelatihan The 7 Habits for New College Students diberikan kepada 3199 mahasiswa baru ITB dengan tujuan membekali para mahasiswa baru ini untuk memahami nilai ITB sebagai almamater dan mengembangkan potensi dalam pembentukan karakter. Kepala lembaga tahap persiapan bersama ITB, Ahmad Nuruddin mengatakan, sudah sejak beberapa tahun lalu ITB menggelar pelatihan-pelatihan semacam ini kepada para mahasiswa baru.
Namun sejak tahun lalu semua menjadi berbeda karena pelatihan diberikan secara institusi dan tidak lagi dilakukan terpisah-pisah di setiap jurusan atau program studi. Untuk materinya, Ahmad menjelaskan, tema pelatihan yang diberikan kepada mahasiswa baru selalu disesuaikan. Tahun lalu, sambungnya, mahasiswa baru ITB diberikan pelatihan dengan tema integrasi, prestasi dan komitmen (IPK). Sedangkan untuk tahun ini, pelatihan diadakan 2 kali. Pada Juni lalu pelatihan khusus untuk mahasiswa baru dari jalur undangan dengan tema materi motivasi.
"Tetapi yang paling besar adalah pelatihan 7 Habits ini, karena melibatkan semua mahasiswa baru dengan puluhan fasilitator," kata Ahmad dalam acara pemecahan rekor tersebut.
Ia mengungkapkan, yang terpenting adalah pelatihan ini sudah dilaksanakan dengan lancar, dirinya berharap pelatihan ini akan menjadi tonggak untuk pelatihan-pelatihan kepada mahasiswa baru di waktu yang akan datang.
"Yang lebih penting hasil pelatihan ini dapat membawa dampak berkelanjutan, dan membentukmindset mahasiswa ITB untuk menunjukkan jati dirinya sebagai putra dan putri terbaik. Mudah-mudahan dampak pelatihan ini akan terus tumbuh, dan tumbuh untuk semua generasi," ujarnya.

sumber: sini
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Cheap Web Hosting