Tampilkan postingan dengan label PTN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2011

PTN Perlu Tambah Jumlah Doktor

YOGYAKARTA, Les Privat FisMat-C- Jumlah doktor di perguruan tinggi merupakan salah satu parameter kredibilitas lembaga pendidikan tersebut. Hal itu dikatakan Rektor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Edy Suandi Hamid, di Yogyakarta, Rabu (3/8/2011).
"Oleh karena itu, perguruan tinggi termasuk Universitas Islam Indonesia (UII) perlu terus menambah jumlah doktor untuk meningkatkan kualitas dan kredibilitas," kata Edy saat memberikan penyambutan delapan doktor baru UII, hari ini.
Menurut dia, dengan jumlah doktor yang terus bertambah, perkembangan universitas dalam melaksanakan tugas utamanya sebagai institusi pendidikan tinggi semakin meningkat.

Ia mengatakan, jumlah doktor di Indonesia hingga saat ini dinilai masih sangat minim. Dari total penduduk Indonesia sekitar 230 juta orang, hanya 23.000 orang yang menyandang gelar doktor.
"Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) mencatat pada 2010 pertambahan dosen berkualifikasi doktor hanya sekitar 3.500-4.000 orang. Indonesia juga dinilai terlambat mencetak doktor dibandingkan dengan negara lain," katanya.

Menurut dia, di Amerika Serikat, jumlah doktor telah mencapai 3,1 juta orang dan India memiliki 1,69 juta doktor. "Hal itu menuntut kita memiliki tanggung jawab dalam mendidik, membina, dan membekali mahasiswa sehingga nanti menjadi alumni yang dapat berperan dalam memperbaiki bangsa dan negara," katanya.
Ia mengatakan, delapan doktor baru UII itu terdiri atas tujuh orang lulusan perguruan tinggi luar negeri dan satu orang lulusan perguruan tinggi dalam negeri.
"Dengan delapan doktor baru yang lulus pada 2010-2011 itu, UII kini memiliki 85 dosen dengan jenjang pendidikan strata tiga atau doktoral," katanya.

sumber: sini

Rabu, 03 Agustus 2011

PTN Mahal?

Les Privat FisMat-C - Pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia industri.
Pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab membiayai pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Kenyataannya, anggaran pemerintah kita kurang memadai untuk mengelola pendidikan tinggi yang berkualitas.
Anggaran yang minim tidak sejalan dengan tuntutan menjadikan perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai universitas kelas dunia. Oleh karena itu, cita-cita membentuk universitas riset hanyalah mimpi di siang bolong.
Ketika sebuah lembaga internasional mengumumkan peringkat universitas-universitas di dunia, kita merasa terabaikan. Yang masuk peringkat tersebut hanya beberapa universitas ternama di Indonesia, seperti ITB, UI, dan IPB. Padahal, jumlah perguruan tinggi di Indonesia sangat banyak.
Unit biaya pendidikan tinggi terkait erat dengan mutu penyelenggaraan pendidikan. Biaya rendah akan mengorbankan kualitas yang hendak dicapai. Peningkatan mutu dosen, aktivitas riset, dan pelaksanaan proses belajar-mengajar memerlukan biaya besar, dan itu semua merupakan satu kesatuan untuk menghasilkan sarjana yang kompeten.
Beberapa PTN sejak beberapa tahun terakhir telah berkreasi menciptakan jalur seleksi mahasiswa dengan biaya mahal. Fakultas kedokteran ada yang menawarkan biaya masuk hingga lebih dari Rp 150 juta. Bisa jadi, ke depan tidak ada lagi dokter dari keluarga miskin.
Jalur penerimaan mahasiswa dengan sistem reguler (berbiaya relatif murah) adalah 60 persen dari total bangku universitas. Peluang kuliah dengan biaya kelas rakyat inilah yang diperebutkan oleh ratusan ribu calon mahasiswa. Sementara 40 persen sisanya buat mahasiswa kaya.
PTN merasa sah-sah saja menawarkan program jalur mahal ini ke masyarakat. Alasannya, pendidikan di perguruan tinggi memerlukan biaya tidak sedikit dan subsidi pemerintah selama ini tidak pernah mencukupi. Dengan demikian, peluang menjadi mahasiswa lebih besar pada anak-anak yang orangtuanya memiliki banyak uang.
Apakah ini berarti pendidikan tinggi tengah mengarah pada kapitalisme? Bagaimana nasib bangsa ini jika pendidikan yang baik hanya dapat dinikmati oleh orang-orang kaya?
Tertutupnya pintu masuk ke perguruan tinggi bagi orang miskin—karena biaya pendidikan yang mahal—membuat kesempatan orang miskin untuk keluar dari keterpurukan ekonomi semakin terbatas. Padahal, jumlah orang miskin di Indonesia masih lebih dari 30 juta orang.
Internasionalisasi
Salah satu alternatif untuk mendanai perguruan tinggi adalah membuka kelas-kelas internasional. Sebagian PTN sudah membuka program studi internasional yang dapat menarik mahasiswa asing dengan perkuliahan berbahasa Inggris. Ini adalah langkah strategis untuk mendapatkan pemasukan dana dari mahasiswa asing.
Kekuatan besar yang mendorong perguruan tinggi untuk membuka jalur internasional adalah adanya globalisasi, kompetisi, dan tuntutan ekonomi. Program internasional akan menetapkan tarif SPP yang jauh lebih besar daripada tarif SPP lokal. Hal ini sah-sah saja karena perguruan tinggi di negara-negara lain juga menerapkan kebijakan ini. Dengan demikian, penerimaan dana oleh PTN menjadi lebih terjamin.
Yang kita harapkan adalah cara-cara mencari dana yang dilakukan PTN hendaknya tetap dalam koridor sehingga tidak memunculkan sinisme di kalangan masyarakat.
Kalau kita bandingkan dengan keadaan di luar negeri, mereka yang melanjutkan studi di perguruan tinggi adalah yang mampu otaknya dan mampu ekonominya untuk membayar SPP. Di Amerika Serikat (AS), yang namanya state university umumnya mematok biaya SPP lebih murah dibandingkan dengan universitas swasta. Namun, tetap saja masuk perguruan tinggi di AS mahal. Mahalnya SPP ini dipikul secara merata oleh mahasiswa, jadi tak ada mahasiswa yang karena kemampuan ekonominya tinggi jadi lebih berpeluang diterima.
Rintisan untuk membuka program internasional sebenarnya dimulai awal tahun 1980-an, ketika puluhan mahasiswa Malaysia menempuh pendidikan S-1 di IPB. Tahun 1990-an, Program Pascasarjana SEAMEO TROPMED UI menerima mahasiswa dari Asia Tenggara.
Kampus PTN yang besar dan megah sebenarnya dapat menjadi modal dasar untuk menampung mahasiswa asing. Sayangnya, kita hanya bisa membangun, tetapi tidak bisa merawat. Di luar negeri, perawatan sangat diperhatikan sehingga semua insan akademik betah di kampus.
Apabila predikat kampus internasional telah diraih, uang bisa mengalir ke universitas dari mahasiswa asing. Dosen-dosen yang pintar, energik, dan inovatif dapat direkrut sehingga universitas benar-benar didukung oleh SDM andal.
Peluang masuk perguruan tinggi harus dibuat sama untuk seluruh masyarakat. Perguruan tinggi wajib menetapkan uang bangku dan SPP standar yang berlaku umum. Standardisasi dilakukan setelah menghitung secara cermat subsidi dari pemerintah dan dana-dana yang dihasilkan dari kegiatan Tri Dharma (pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat).
Tanpa melupakan penelitian dasar, PTN juga bisa menjalin kerja sama riset dengan industri agar tidak mencari dana masyarakat dengan mematok biaya awal kuliah yang mencekik.
Kemdiknas dengan plafon anggaran 20 persen APBN harus lebih saksama lagi dalam mengalokasikan dana penyelenggaraan pendidikan di PTN. Isu tak sedap tentang rendahnya daya serap anggaran Kemdiknas seharusnya menjadi pemicu untuk merancang anggaran pendidikan secara lebih baik sehingga masyarakat dapat meraih pendidikan setinggi-tingginya dengan biaya terjangkau.
*Ali Khomsan Dosen FEMA IPB

sumber: sini

Rabu, 27 Juli 2011

PTN Segera Gunakan Sistem Keuangan Online

Les Privat FisMat-C -- Les Privat FisMat-C -- Jakarta ---  Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh memberikan tiga solusi untuk perapihan administrasi di perguruan tinggi negeri. Tiga solusi ini harus dijalankan supaya tidak ada lagi rekening di unit-unit Kementerian Pendidikan Nasional yang belum terdaftar di Kementerian Keuangan. Salah satu solusinya adalah dengan integrasi sistem, melalui sistem keuanganonline.

"Meskipun belum terdaftar di Kementerian Keuangan, rekening tetap resmi terdaftar di bank (berstatus) BUMN. Sehingga dengan sistem keuanganonline yang terintegrasi, bisa bekerja sama dengan bank-bank tersebut supaya melaporkan rekening yang berasal dari perguruan tinggi negeri," ujar Menteri Nuh seusai melantik pejabat eselon 1 di Graha Utama Kemdiknas, hari ini (25/7).

Solusi lainnya adalah dengan menerapkan sistem reward and punishmentdalam pengelolaan keuangan di lingkungan Kemdiknas. "Kalau perlu sanksinya diumumkan." Dengan begitu, diharapkan mekanisme kontrol dalam internal perguruan tinggi negeri dapat berjalan dengan baik.

Selain menerapkan sistem keuangan online yang terintegrasi dan sistemreward and punishment, Kemdiknas juga akan memberikan pendampingan kepada perguruan tinggi negeri dalam hal administrasi, salah satunya dengan memberikan pendidikan dan pelatihan secara berkala.

Adapun tentang tim survei yang dibentuk untuk mengetahui pungutan pendidikan di daerah-daerah, saat  ini Kemdiknas masih menunggu hasilnya. Tim tersebut terdiri dari tiga unsur yaitu Inspektorat Jenderal Kemdiknas, Inspektorat Jenderal Kemdagri, dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Menteri Nuh berjanji akan mengumumkan hasilnya, setelah tim memberikan laporan pada 27 Juli mendatang. (lian)

sumber: sini

Selasa, 14 Juni 2011

M Nuh Resmikan Rumah Sakit Unair

FisMat C++Surabaya - Setelah mulai didirikan sejak tahun 2007 lalu, Rumah Sakit Universitas Airlangga (Unair) mulai hari ini siap dioperasikan. Pengoperasian ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan M. Nuh dan Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi selaku Ketua Majelis Wali Amanah Airlangga, siang tadi.

Direktur Rumah Sakit Unair Prof. dr .Dikman Angsar, SpOG. menuturkan bahwa pembangunan rumah sakit ini bukan untuk menyaingi Rumah Sakit Dr. Soetomo yang selama ini dijadikan tempat praktek mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair. "Rumah Sakit Unair kita fokuskan sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan, ini bisa mengurangi penumpukan pasien di beberapa rumah sakit," kata Dikman.

Saat ini RS Unair dibangun secara bertahap. Tahun 2007 dibangun gedung senilai Rp 9 miliar, tahun 2008 senilai Rp 6 miliar, dan tahun 2009 senilai Rp 312 miliar, dengan rincian Rp 31 miliar untuk pembangunan fisik gedung dan sisanya untuk membeli peralatan medis. Sementara itu, tahun lalu juga dilakukan perluasan bangunan dengan biaya Rp 130 miliar.

RS Unair dibangun di sisi gedung Rektorat Unair di kawasan Mulyorejo di lahan seluas 60 ribu meter persegi dengan total bangunan 40 ribu meter persegi dan memiliki delapan lantai.

Meskipun belum sepenuhnya rampung, rumah sakit ini sudah mulai beroperasi dan dilengkapi dengan 64 tempat tidur dan 110 tenaga medis, mulai dari perawat, dokter, hingga guru besar. "Para dokter senior di RSUD Dr. Soetomo juga membantu," imbuh dia.

Untuk menyelesaikan total pembangunan, rumah sakit ini masih memerlukan anggaran sekitar Rp 120 miliar lagi. "Mudah-mudahan dananya bisa cair (dari APBN) tahun ini," kata dia.

Meskipun belum rampung sepenuhnya, dari delapan lantai, setidaknya empat lantai saat ini sudah bisa dioperasikan dengan berbagai peralatan modern, seperti lima alat bedah jantung serta enam alat radiologi.

Menteri Pendidikan Muhammad Nuh meminta RS Unair agar bisa menjadipioneer rumah sakit pendidikan untuk pengembangan riset kedokteran. "Rumah sakit ini harus pegang dua kartu, satu pendidikan, satunya kesehatan," katanya.

Nuh sendiri berjanji akan memperjuangkan kebutuhan dana sebesar Rp 120 Miliar yang dibutuhkan RS Unair.

Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi selaku Ketua Majelis Wali Amanah Unair meminta rumah sakit ini juga harus mengedepankan pengabdian kepada masyarakat. "Rumah sakit ini jangan melupakan pengabdian kepada masyarakat," kata Sudi.



sumber: sini
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Cheap Web Hosting