Rabu, 03 Agustus 2011

Hal-Hal Yang Perlu DIketahui Tentang IELTS

JAKARTA, Les Privat FisMat-C - Jika Anda memiliki rencana melanjutkan studi di luar negeri, kemampuan berbahasa Inggris menjadi kunci utama. Ada beberapa parameter yang dijadikan alat ukur untuk melihat kemampuan berbahasa Inggris seseorang. Selain TOEFL, ada pula IELTS (International English Language Testing System), tes yang diakui secara global untuk menguji kemampuan Anda dalam berbahasa Inggris. Yuk, mengenali IELTS lebih dalam, seperti dikutip dariHotcourses Indonesia.

Mengenal IELTS

IELTS adalah sebuah tes kemahiran bahasa Inggris yang membuktikan Anda memiliki standar tertentu dalam bahasa Inggris, baik untuk tujuan bekerja atau belajar. Tes yang akan dijalani untuk mengetahui empat keterampilan berbahasa yaitu mendengarkan, membaca, berbicara dan menulis.

IELTS diakui oleh institusi-institusi pendidikan di Inggris, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Hong Kong, Irlandia, Afrika Selatan dan sejumlah badan profesional di seluruh dunia termasuk Dinas Imigrasi Selandia Baru dan Dewan Media Inggris General Medical. IELTS diterima oleh lebih dari 6.000 organisasi di seluruh dunia.

Nah, yang perlu Anda ketahui, IELTS tersedia dalam dua format yaitu Akademik dan Pelatihan Umum. Apa perbedaan keduanya?

• Tes Akademik adalah untuk siswa internasional yang ingin belajar di institusi pendidikan tinggi di negara berbahasa Inggris.
• Tes Pelatihan Umum cocok untuk orang yang ingin bermigrasi ke negara berbahasa Inggris atau bekerja untuk sebuah organisasi profesional.

Tesnya sendiri, untuk uji kemampuan mendengarkan dan berbicara dalam tes akademik dan pelatihan umum memiliki materi yang sama. Akan tetapi, untuk uji kemampuan membaca dan menulis disesuaikan masing-masing untuk keterampilan akademik atau keterampilan umum.

Lebih jauh tentang 4 aspek tes

1. Tes mendengarkan
Tes mendengarkan akan berlangsung selama 30 menit dengan 4 bagian dan 40 pertanyaan. Dalam tes ini, Anda akan uji mengenai pemahaman spesifik dan keseluruhan bahasa Inggris dalam berbagai konteks dan format.

2. Tes membaca 
Tes ini akan berlangsung selama 60 menit. Peserta tes akan menjawab 3 bagian yang terdiri dari 40 pertanyaan. Nah, dalam tes membaca ini, Anda perlu memahami teks secara rinci dan menunjukkan bahwa Anda memahami informasi rumit yang disediakan dalam bahasa Inggris.

3. Tes menulis 
Tes menulis berlangsung selama 60 menit. Peserta tes akan mengerjakan 2 tugas. Untuk menembus tes ini, Anda diharapkan  menggunakan bahasa Inggris untuk berbagai tujuan dan menunjukkan kemampuan Anda dalam menyesuaikan cara tulis untuk topik dan konteks yang berbeda. Struktur kalimat, kosa kata, penggunaan tata bahasa dan gaya akan dinilai.

4. Tes berbicara
Tes berbicara berlangsung selama 11-14 menit dan terdiri dari 3 bagian. Kandidat untuk Akademik dan Pelatihan Umum akan mendapatkan bentuk tes yang sama. Tes ini melibatkan wawancara individu dengan seorang guru dan mencakup berbagai topik dan konteks. Anda harus dapat membicarakan topik pribadi, memberikan pembicaraan singkat tanpa bantuan pada topik yang dipilih dan berkontribusi pada diskusi dua arah mengenai isu-isu yang lebih abstrak.

Apa itu "IELTS BAND"?

Setelah menjalani sejumlah rangkaian tes tersebut, Anda akan dinilai dan diberi "band score". Ingin mengetahui bagaimana para penguji mendefinisikan masing-masing dari 9 "band score"?

• skor 9 - pengguna ahli
• skor 8 - pengguna yang sangat baik
• skor 7 - pengguna yang baik
• skor 6 - pengguna kompeten
• skor 5 - pengguna sederhana
• skor 4 - pengguna terbatas
• skor 3 - pengguna sangat terbatas
• skor 2 - pengguna intermiten (hanya mengetahui informasi yang sangat mendasar)
• skor 1 - tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris

Berapa biaya tes IELTS?
Untuk mencari tahu biaya dalam Rupiah, Anda dapat mengunjungi situs IELTS (http://www.ielts.org/test_centre_search/search_results.aspx).

Berapa skor yang diperlukan untuk masuk ke universitas?

Jika Anda bertujuan untuk belajar di sebuah institusi di Amerika Serikat, Kanada, Inggris atau Australia, skor IETLS yang harus dicapai pada umumnya adalah 6 - 6.5. Jika ingin memasukkan profesi seperti medis, maka persyaratan skor dapat berupa IELTS 7 atau lebih. Ada baiknya selalu mengecek dengan institusi atau organisasi terkait.

Lebih jauh, bisa mengunjungi www.ielts.org.

Bagaimana dengan TOEFL?

TOEFL juga merupakan tes untuk membuktikan kemampuan bahasa Inggris ketika mendaftar sebuah program akademis. TOEFL terkadang diakui oleh universitas di Inggris sebagai alternatif untuk IELTS. TOEFL adalah tes kemahiran berbahasa Inggris dari Amerika yang menggunakan bahasa Inggris Amerika, bukan Inggris (British) sehingga lebih diakui untuk universitas d Amerika Serikat.

Sumber: Hotcourses Indonesia

sumber: sini

PTN Mahal?

Les Privat FisMat-C - Pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia industri.
Pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab membiayai pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Kenyataannya, anggaran pemerintah kita kurang memadai untuk mengelola pendidikan tinggi yang berkualitas.
Anggaran yang minim tidak sejalan dengan tuntutan menjadikan perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai universitas kelas dunia. Oleh karena itu, cita-cita membentuk universitas riset hanyalah mimpi di siang bolong.
Ketika sebuah lembaga internasional mengumumkan peringkat universitas-universitas di dunia, kita merasa terabaikan. Yang masuk peringkat tersebut hanya beberapa universitas ternama di Indonesia, seperti ITB, UI, dan IPB. Padahal, jumlah perguruan tinggi di Indonesia sangat banyak.
Unit biaya pendidikan tinggi terkait erat dengan mutu penyelenggaraan pendidikan. Biaya rendah akan mengorbankan kualitas yang hendak dicapai. Peningkatan mutu dosen, aktivitas riset, dan pelaksanaan proses belajar-mengajar memerlukan biaya besar, dan itu semua merupakan satu kesatuan untuk menghasilkan sarjana yang kompeten.
Beberapa PTN sejak beberapa tahun terakhir telah berkreasi menciptakan jalur seleksi mahasiswa dengan biaya mahal. Fakultas kedokteran ada yang menawarkan biaya masuk hingga lebih dari Rp 150 juta. Bisa jadi, ke depan tidak ada lagi dokter dari keluarga miskin.
Jalur penerimaan mahasiswa dengan sistem reguler (berbiaya relatif murah) adalah 60 persen dari total bangku universitas. Peluang kuliah dengan biaya kelas rakyat inilah yang diperebutkan oleh ratusan ribu calon mahasiswa. Sementara 40 persen sisanya buat mahasiswa kaya.
PTN merasa sah-sah saja menawarkan program jalur mahal ini ke masyarakat. Alasannya, pendidikan di perguruan tinggi memerlukan biaya tidak sedikit dan subsidi pemerintah selama ini tidak pernah mencukupi. Dengan demikian, peluang menjadi mahasiswa lebih besar pada anak-anak yang orangtuanya memiliki banyak uang.
Apakah ini berarti pendidikan tinggi tengah mengarah pada kapitalisme? Bagaimana nasib bangsa ini jika pendidikan yang baik hanya dapat dinikmati oleh orang-orang kaya?
Tertutupnya pintu masuk ke perguruan tinggi bagi orang miskin—karena biaya pendidikan yang mahal—membuat kesempatan orang miskin untuk keluar dari keterpurukan ekonomi semakin terbatas. Padahal, jumlah orang miskin di Indonesia masih lebih dari 30 juta orang.
Internasionalisasi
Salah satu alternatif untuk mendanai perguruan tinggi adalah membuka kelas-kelas internasional. Sebagian PTN sudah membuka program studi internasional yang dapat menarik mahasiswa asing dengan perkuliahan berbahasa Inggris. Ini adalah langkah strategis untuk mendapatkan pemasukan dana dari mahasiswa asing.
Kekuatan besar yang mendorong perguruan tinggi untuk membuka jalur internasional adalah adanya globalisasi, kompetisi, dan tuntutan ekonomi. Program internasional akan menetapkan tarif SPP yang jauh lebih besar daripada tarif SPP lokal. Hal ini sah-sah saja karena perguruan tinggi di negara-negara lain juga menerapkan kebijakan ini. Dengan demikian, penerimaan dana oleh PTN menjadi lebih terjamin.
Yang kita harapkan adalah cara-cara mencari dana yang dilakukan PTN hendaknya tetap dalam koridor sehingga tidak memunculkan sinisme di kalangan masyarakat.
Kalau kita bandingkan dengan keadaan di luar negeri, mereka yang melanjutkan studi di perguruan tinggi adalah yang mampu otaknya dan mampu ekonominya untuk membayar SPP. Di Amerika Serikat (AS), yang namanya state university umumnya mematok biaya SPP lebih murah dibandingkan dengan universitas swasta. Namun, tetap saja masuk perguruan tinggi di AS mahal. Mahalnya SPP ini dipikul secara merata oleh mahasiswa, jadi tak ada mahasiswa yang karena kemampuan ekonominya tinggi jadi lebih berpeluang diterima.
Rintisan untuk membuka program internasional sebenarnya dimulai awal tahun 1980-an, ketika puluhan mahasiswa Malaysia menempuh pendidikan S-1 di IPB. Tahun 1990-an, Program Pascasarjana SEAMEO TROPMED UI menerima mahasiswa dari Asia Tenggara.
Kampus PTN yang besar dan megah sebenarnya dapat menjadi modal dasar untuk menampung mahasiswa asing. Sayangnya, kita hanya bisa membangun, tetapi tidak bisa merawat. Di luar negeri, perawatan sangat diperhatikan sehingga semua insan akademik betah di kampus.
Apabila predikat kampus internasional telah diraih, uang bisa mengalir ke universitas dari mahasiswa asing. Dosen-dosen yang pintar, energik, dan inovatif dapat direkrut sehingga universitas benar-benar didukung oleh SDM andal.
Peluang masuk perguruan tinggi harus dibuat sama untuk seluruh masyarakat. Perguruan tinggi wajib menetapkan uang bangku dan SPP standar yang berlaku umum. Standardisasi dilakukan setelah menghitung secara cermat subsidi dari pemerintah dan dana-dana yang dihasilkan dari kegiatan Tri Dharma (pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat).
Tanpa melupakan penelitian dasar, PTN juga bisa menjalin kerja sama riset dengan industri agar tidak mencari dana masyarakat dengan mematok biaya awal kuliah yang mencekik.
Kemdiknas dengan plafon anggaran 20 persen APBN harus lebih saksama lagi dalam mengalokasikan dana penyelenggaraan pendidikan di PTN. Isu tak sedap tentang rendahnya daya serap anggaran Kemdiknas seharusnya menjadi pemicu untuk merancang anggaran pendidikan secara lebih baik sehingga masyarakat dapat meraih pendidikan setinggi-tingginya dengan biaya terjangkau.
*Ali Khomsan Dosen FEMA IPB

sumber: sini
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Cheap Web Hosting