Sabtu, 11 Juni 2011

Joko Santoso Harapkan Robot Karya Mahasiswa Bisa Dijadikan Industri

YOGYAKARTA, FisMat C++ Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Joko Santoso mengharapkan, robot karya mahasiswa tidak hanya merupakan karya yang ditujukan untuk mengikuti kejuaraan. Tetapi, bisa juga memberikan manfaat bagi sektor ekonomi dan industri. Hal itu disampaikan Joko di sela pembukaan Kontes Robot Nasional (KRN) 2011, di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Sabtu (11/6/2011).

"Dengan demikian, hasil karya robotika para mahasiswa itu tidak hanya berhenti pada sisi kejuaraan, tetapi juga ditindaklanjuti untuk kepentingan kedua bidang tersebut,"kata Joko.
Dengan keterlibatan dan dukungan dunia industri pada pengembangan robot itu, menurutnya, di masa yang akan datang pengembangan robotika di Indonesia diperkirakan akan semakin maju. "Bagi kontingen dan mahasiswa yang menang pada kompetisi tersebut kami berharap dapat menunjukkan kekuatannya di kancah internasional. Di era persaingan yang ketat seperti saat ini kita harus terus berusaha agar dapat menunjukkan kekuatan kita di tingkat global pada bidang robotika," katanya.
Sementara itu, Rektor UGM Sudjarwadi mengatakan, KRN 2011 diharapkan dapat dijadikan sarana mengembangkan dan memajukan dunia robotika di Indonesia. "Kontes itu diharapkan juga dapat menjadi ajang untuk melatih sikap siap berkompetisi secara profesional bagi para mahasiswa. Melalui kompetisi itu akan tercipta para pemimpin bangsa yang berkualitas," katanya.
Ketua Panitia KRN 2011 Muhammad Arif Wibisono mengatakan, kegiatan bertema "Jogja Robot Under Attack" itu menampilkan 101 tim dari 51 perguruan tinggi. Tim tersebut merupakan juara 1-3 di tingkat regional, yakni Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, dan Indonesia Timur. Menurut dia, KRN 2011 mempertandingkan kategori Kontes Robot Indonesia (KRI), Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) beroda, berkaki, dan battle, dan Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI).  
KRI bertema Larungan. Pemenang kategori itu akan mewakili Indonesia dalam kontes robot internasional ABU Robocon 2011 di Thailand. Ia mengatakan, KRCI beroda dan berkaki bertema Robot Pemadam Api dan KRCI battle bertema Robot Pemain Bola. Pemenang kontes itu akan mewakili Indonesia di ajang kontes robot di Meksiko.
"KRSI bertema Robot Penari Klono Topeng, yang menampilkan robot yang akan meniru penari klono topeng dari Yogyakarta," katanya.

sumber: sini

Priyo: Hormat Pada Bendera dan Lagu Indonesia Raya Adalah Ibadah

FisMat C++, JAKARTA - Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso mengaku dirinya prihatin karena masih ada sekolah dan stasiun radio yang tidak menghormati simbol-simbol negara, seperti tidak mau hormat kepada bendera Merah Putih dan menyiarkan lagu Indonesia Raya.

"Ini salah kaprah, karena hormat kepada bendera Merah Putih bukan syirik. Kok masih ada sisa persoalan yang belum terselesaikan, kenapa tidak mau hormat. Ini sungguh memprihatinkan," kata Priyo di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (10/6).

Menurut Priyo, dalam agama hormat kepada bendera Merah Putih adalah sebuah ibadah. "Saya diajarkan oleh kiai-kiai dan ustadz bahwa hormat kepada bendera Merah Putih adalah bentuk cinta tanah air, cinta tanah air adalah ibadah," kata Priyo.

Oleh karena itu, ia meminta kepada Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dan Kementerian Agama (Kemag) untuk mengusut adanya sekolah yang tidak mau menghormati bendera Merah Putih. "Kemdiknas dan Kemag harus segera lakukan pengecekan dan pembinaan terhadap sekolah tersebut. Harus dibina, silahkan kalau Kemendiknas menutup sekolah tersebut, kalau tidak mau dibina dan anak didik diselamatkan," katanya.

Ia juga menyatakan keprihatinannya atas lagu Indonesia Raya yang dianggap oleh Radio Komunitas Ibnul Qoyyim di Balikpapan, Kalimantan Timur. "Saya prihatin ada lagu kebangsaan ditolak. Kementerian Komunikasi dan Informatika harus segera melakukan pengecekan dan kalau itu memang benar, sungguh sangat memprihatinkan. Segera cabut saja frekuensi siaran radio tersebut," kata Priyo.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, dua sekolah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, tidak mau hormat kepada bendera Merah Putih. Dua sekolah itu adalah Yayasan Perguruan Islam Al Irsyad Al Islamiyah Tawangmangu dan SD IST Al Albani Matesih. Sementara komunitas Ibnul Qoyyim di Balikpapan, Kalimantan Timur, menolak menyiarkan lagu Indonesia Raya di radionya.



sumber: sini

Islam Banyak Diminati Oleh Mahasiswa Rusia

JAKARTA, FisMat C++ Sebanyak 27 mahasiswa muslim Rusia memperdalam studi keislaman di sejumlah perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia, antara lain di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seperti dikutip dari ANTARA, Sekretaris Kedua Fungsi Pensosbud KBRI Moskow Enjay Diana, Sabtu (11/6/2011), mengatakan, selain di dua universitas itu, mereka juga akan belajar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta.

Para mahasiswa ini berasal dari berbagai wilayah Rusia yaitu Moskow, Kazan, Tatarstan, Grozny, Chechnya, dan Makhachkala, Dagestan. Mereka mengambil berbagai progam pendidikan baik sarjana (S-1) maupun master (S-2) dan doktor (S-3) pada berbagai jurusan atau spesialisasi, seperti syariah, ekonomi Islam dan tilawah.
Dalam pertemuan dengan mahasiswa tersebut di KBRI Moskow sehari sebelum keberangkatan ke Indonesia, Dubes RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa yang memiliki tekad belajar agama Islam di Indonesia. Dubes Hamid Awaludin mengatakan, para mahasiswa ini adalah pionir dalam mengembangkan hubungan antara bangsa Indonesia dan Rusia yang tidak hanya dalam aspek keagamaan, namun juga pendidikan, sosial dan budaya.
Pertemuan tersebut juga dihadiri delegasi Indonesia yang mengikuti "Interfaith Dialog Indonesia-Rusia?" di Moskow, di antaranya Kabalitbang Kementerian Agama Prof Dr H Abdul Djamil, Rektor UIN Jakarta, Prof Dr Komarudin Hidayat, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gonto Dr KH Syukri Zarkasyi, dan Prof Dr Philip K Wijaya, Perwakilan Etnis China dan Walubi, serta Alberd Pardede, Kasubbag Perencanaan Setditjen IDP, Kemlu.
Menurut Komarudin Hidayat, Indonesia merupakan salah satu tempat yang dapat dijadikan tempat belajar memperdalam keislaman.
"Indonesia dan Rusia adalah negara sama-sama multi etnik dan multi agama. Pendidikan yang diperoleh bermanfaat besar bagi mahasiswa itu sendiri dan masyarakat pada umumnya dengan mengedepankan toleransi antarsesama," ujar Komaruddin.
Mukhammad-Arif Darvishov dari Institut Teologi dan Hububungan Internasional Makhachkala, Dagestan, menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Pemerintah Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa muslim Rusia belajar di Indonesia. "Kami sangat senang bahwa mahasiswa kami yang sedang belajar saat ini di Indonesia baik-baik saja. Dengan pengiriman mahasiswa baru ini diharapkan dapat lebih mendekatkan hubungan antarmasyarakat kedua bangsa," ujar Mukhammad-Arif.
Ia menambahkan, pengetahuan tentang Indonesia, perkembangan pemikiran dan praktik Islam di Indonesia, menjadi dasar penting untuk dipelajari. Menurutnya, Indonesia mengenal toleransi intern umat beragama dan antarumat beragama.
Pengiriman mahasiswa muslim tahun 2011 ini merupakan yang kedua kali, setelah tahun 2010 sebanyak 10 mahasiswa muslim Rusia memperdalam studi Islam di UIN Malang. Kerja sama ini merupakan salah satu implementasi dari kerja sama antarperguruan tinggi Islam di Rusia dan Indonesia yang ditandatangani pada akhir tahun 2009, ketika Rektor Universitas Islam Rusia, Univesitas Islam Moskow dan Institut Teologi dan Hubungan Internasional Makhachkala berkunjung ke Indonesia. 

Sumber: disini

Rabu, 08 Juni 2011

Biaya Masuk SMA RSBI di Tasikmalaya Capai 5 Juta

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA - Biaya masuk SMA Negeri 1 favorit berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada penerimaan murid tahun ajaran 2011-2012 mencapai Rp 5 juta. "Kalau biaya masuk sekolah RSBI itu diberi kewenangan pemerintah dalam penerimaan siswa baru berdasarkan kesepakatan orang tua murid," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, SMA Negeri 1 Kota Tasikmalaya, Dadi Bahtiar, kepada wartawan, Selasa (7/6).

Menurutnya biaya masuk di SMA Negeri 1 Kota Tasikmalaya relatif murah dibandingkan sekolah lain berstatus RSBI yang dinilai lebih mahal. Biaya tersebut, dijelaskan Dadi sesuai dengan fasilitas dalam menunjang status RSBI sehingga para siswa lebih meningkatkan kualitas kreativitas dan akademisnya.

Namun biaya masuk sekolah yang dbebani kepada orang tua calon siswa SMA Negeri 1, kata Dadi, tidak semuanya diratakan harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 5 juta, melainkan pariatif dari mulai Rp 4,5 juta hingga Rp 5 juta. "Kami juga tetap konsisten dalam menerima siswa, siswa yang tidak memenuhi kriteria dari nilai, tidak bisa kami terima, meskipun orang tua siswa itu mampu ekonominya," katanya.

Terkait siswa berprestasi yang ingin melanjutkan sekolahnya ke SMA Negeri 1 Tasikmalaya, tetapi terkendala biaya, kata Dadi, pihaknya dapat menerima tanpa ada beban biaya masuk sekolah. Asalkan siswa berprestasi dari keluarga tidak mampu itu, kata Dadi, memenuhi kriteria rata-rata nilai setiap mata pelajaran saat di SMP bernilai 75.

"Kita sekarang menerima enam orang siswa kurang mampu, dari 324 siswa yang lolos seleksi, siswa tidak mampu kita terima karena memenuhi kriteria dalam penerimaan," katanya.

Siswa berprestasi tapi tidak mampu dalam ekonomi itu, kata Dadi, dibantu biayanya oleh pemerintah dan pihak sekolah hasil dari pengumpulan dana orang tua siswa baru lainnya yang mampu. "Kami dalam menerima siswa baru berharap yang berprestasi, meskipun siswa itu tidak mampu, kita bantu, karena kita ada bantuan Wali Kota dan bantuan lainnya," katanya.

Menanggapi beban biaya masuk SMA favorit di Kota Tasikmalaya mencapai Rp 5 juta, Ketua Forum Peduli Pendidikan Tasikmalaya, Cucu Rasman menilai relatif murah. Menurutnya beban biaya tersebut merupakan langkah dalam menunjang jalanmya kegiatan belajar mengajar yang maksimal dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendidikan.

"Tapi tetap siswa yang tidak mampu dalam ekonomi tapi berprestasi harus dapat melanjutkan sekolahnya yang lebih baik, karena sekolah tidak membedakan siswa yang kaya atau miskin," katanya.
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara

sumber: sini

Sekolah RSBI Akan Fasilitasi Anak Kurang Mampu

FisMat C++, SEMARANG - Kalangan sekolah berlabel rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di Kota Semarang, Jawa Tengah, berkomitmen untuk memfasilitasi siswa miskin dalam Penerimaan Peserta Didik (PPD) 2011. Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Semarang, Bambang Nianto, di Semarang, Senin (9/5), mengatakan pihaknya pasti akan memfasilitasi calon peserta didik yang mendaftar, tidak melihat latar belakang ekonominya.

"Meskipun (siswa, red.) miskin, kami tetap fasilitasi. Asalkan, siswa tersebut memiliki kemampuan akademik yang baik dan berhasil lolos dalam tahapan seleksi PPD, tidak ada masalah," katanya.

Ia menjelaskan pada penyelenggaraan PPD Kota Semarang 2011, sekolah RSBI memang diwajibkan menampung siswa miskin minimal 20 persen dari kuota siswa baru yang dimilikinya. "Itu (kewajiban memfasilitasi siswa miskin, red.) sudah diatur dalam peraturan wali kota terkait PPD Kota Semarang 2011. Namun, tidak semata-mata miskin, melainkan tetap memiliki kemampuan akademik baik," katanya.

Meski tidak diatur dalam regulasi PPD Kota Semarang, kata Bambang, pihaknya sudah melakukan langkah itu dalam PPD tahun-tahun sebelumnya dan jumlah siswa miskin di SMA Negeri 1 Semarang tahun lalu sekitar 15 persen. Ditanya kuota siswa baru tahun ini, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Semarang itu menyebutkan 436 siswa yang terbagi dalam 13 kelas reguler dan satu kelas akselerasi.

Untuk SMA Negeri 2 Semarang, Bambang yang juga menjabat Pelaksana tugas (Plt) Kepala SMA Negeri 2 Semarang itu menjelaskan kemungkinan jumlah siswa miskin yang mendaftar akan melebihi 20 persen. "Banyak tidaknya peserta didik dari keluarga miskin yang mendaftar dipengaruhi juga masyarakat sekitar sekolah. Untuk SMA Negeri 2 Semarang banyak masyarakat sekitar dari ekonomi menengah ke bawah," katanya.

Jumlah siswa miskin di SMA Negeri 2 Semarang yang diterima dalam PPD tahun lalu juga lebih 20 persen dari kuota keseluruhan 416 siswa yang dibagi 13 kelas reguler, kata dia, dan tahun ini kecenderungannya mungkin sama. "Data calon peserta didik miskin ini sudah ada dalam sistem PPD Kota Semarang, tidak mungkin dimanipulasi. Saat mendaftar dan memasukkan data pendaftar, akan langsung mendeteksi jika dari keluarga miskin," kata Bambang.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Semarang, Sutomo yang menyebutkan jumlah siswa miskin di sekolah itu tahun lalu sekitar delapan persen. "Kuota siswa baru 200 siswa yang dibagi dalam tujuh kelas reguler dan satu kelas akselerasi. Kami tidak mempermasalahkan banyak atau sedikitnya calon peserta didik miskin yang mendaftar," kata Sutomo.
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara

sumber: sini

Kemendiknas Tanggapi Keluhan Masyarakat Tentang Standar RSBI

FisMat C++, JAKARTA - Desakan masyarakat agar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dievaluasi akhirnya mendapatkan tanggapan nyata dari pemerintah. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdiknas menyatakan dalam dua bulan akan dilakukan perubahan standar RSBI.

"Sudah tahap final. Dalam satu-dua bulan selesai," ujar Kepala Balitbang, Mansyur Ramly, Jumat (3/6).

Ramly menyatakan perubahan tersebut yang pertama menyangkut substansi, yaitu peraturan perundang-undangan, istilah-istilah konsep, dan sebagainya. "Contoh perubahan istilah di antaranya mengenai apa itu RSBI. Di Peraturan Pemerintah nomor 17 sudah disebutkan merupakan sekolah dengan standar pendidikan negara maju," katanya.

Yang kedua, lanjut dia, adalah mengenai kewajibannya. "Kami akan pertajam imperasinya. Misalnya di dalam aturannya pemerintah menjamin terselenggaranya pendidikan dasar tanpa dipungut biaya. Hal itu mengikat," kata Mansyur.

Ia mengakui jika biaya sekolah semakin lama semakin mahal. Meskipun demikian tidak ada alasan bagi para RSBI untuk menaikkan biaya untuk para siswa. "SD dan SMP yang termasuk golongan RSBI tidak boleh memungut biaya apapun dari siswa. Jika ada tambahan biaya maka hal itu harus dibebankan kepada pemda setempat," ujar Mansyur.

Mansyur menyebutkan bahwa RSBI meliputi beberapa aspek. Pertama rekrutmen siswa harus didasarkan pada kemampuan akademik siswa. "RSBI harus bisa menunjukkan bahwa mutunya dari sisi akademik lebih baik dari yang biasa," katanya.

Yang kedua adalah aspek finansial, dimana RSBI harus seminimal mungkin mengadakan pungutan. "Sekolah harus membuat anggaran belanja dulu. Maksimal mereka hanya bisa memungut maksimal sekitar 20 persen dari persentase belanja sekolah. Namun itu baru konsep," ujar Mansyur.

Ketiga, adalah tata pengelolaan yang transparan. "Seandainya terdapat pungutan maka hal tersebut harus dibuka untuk apa. Pungutan tersebut hanya boleh diperuntukkan untuk proses belajar-mengajar," ujar Mansyur.

Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: Fernan Rahadi

sumber: sini

Mendiknas: Uang Pembinaan Dikucurkan Bulan September

FisMat C++, JAKARTA - Mendiknas, Mohammad Nuh, menyatakan pemerintah akan mengucurkan uang pembinaan untuk sekolah-sekolah dengan tingkat kelulusan rendah pada September nanti. Nuh mengungkapkan, uang yang merupakan bentuk intervensi pemerintah tersebut tidak cuma diprioritaskan pada sekolah-sekolah dengan tingkat kelulusan nol persen.

"Karena kami baru saja melakukan evaluasi terkait hal itu, uang tersebut belum akan keluar Juli ini, namun mungkin baru September nanti," ujar Nuh usai membuka acara pelatihan Biaya Operasional Sekolah (BOS) 2011 di kantor Kemdiknas, Senin (7/6).

Menurut Nuh, sekolah yang mendapatkan prioritas tidak hanya sekolah-sekolah yang tingkat kelulusannya rendah atau sekolah-sekolah yang memiliki tingkat nol persen. Namun juga melihat jumlah penduduk miskin di daerah setempat, pendapatan per kapita mereka, serta besaran APBD yang diterima daerah tersebut.

Mengenai besarannya, kata Nuh, tak berubah yakni sebesar Rp 1 Milyar per kabupaten/kota. Nuh menyebutkan, pada 2010 lalu ada sebanyak 100 kabupaten/kota yang diberikan intervensi kebijakan serupa, karena prestasi Ujian Nasional (UN)-nya tidak bagus atau masuk dalam kategori nilai terendah.

Sebelumnya, dalam pengumuman tingkat kelulusan sekolah sesuai nilai akhir siswa SMP/MTs  2010/2011, Mendiknas memaparkan terdapat sebanyak 12 sekolah yang memiliki tingkat kelulusan nol persen, yakni masing-masing satu sekolah yang terdapat di Tujo Una Una, Tambrauw, Halmahera Timur, Ketapang, Bojonegoro, Sumenep, Kebumen, Kendal, serta tiga sekolah Temanggung.
Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: Fernan Rahadi

sumber: sini

Selasa, 07 Juni 2011

Belanda Tawarkan Kolaborasi Pendidikan Dengan Indonesia

BALI, FisMat C++ Pemahaman dan kesiapan Indonesia mewujudkan internasionalisasi di bidang pendidikan tinggi perlu diwujudkan dengan kolaborasi yang signifikan dengan negara-negara di dunia sebagai partner. Meningkatnya pergerakan komunitas internasional di seluruh dunia seiring globalisasi perlu dipahami secepatnya.
Demikian diungkapkan Direktur Nuffic Neso Indonesia Marrik Bellen saat membuka seminar dan workshop "Internationalisation on Higher Education: Challenges and Opportunities for Indonesian-Dutch Academic Collaboration" di Bali, Selasa (7/6/2011).

Seminar yang dilaksanakan atas kerjasama Nuffic Neso Indonesia dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional (Dikti Kemdiknas) ini diselenggarakan selama dua hari hingga Rabu (8/6/2011).
Marrik mengatakan, seminar ini menjadi satu titik utama yang membuka kesempatan berbagi informasi antara Pemerintah Belanda dan Indonesia mengenai konsep internasionalisasi pendidikan tinggi. Menurutnya, perlu dibangun dan diperkuat sebuah forum yang berkesinambungan untuk saling memahami dan berbagi tentang manfaat dari kerjasama pendidikan tinggi antara kedua negara.
"Saya pikir ini adalah sesi berbagi tentang informasi yang akan membantu kita semua, institusi pendidikan tinggi, untuk membuka celah kerjasama studi khususnya di Belanda dan apa saja mengenai informasi dan manfaat dari kolaborasi ini," ujar Marrik.
Adapun seminar ini diikuti 30 pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia, di antaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung), Unika Soegijapranata, Universitas Tarumanegara (Untar) dan lain-lainnya.
Hadir sebagai pembicara di hari pertama seminar adalah Drs Tom Loran (Course Director-Applied Earth Sciences Senior Project Officer di University of Twente), Belanda; Prof Ahmad Jazidie (Direktur Kelembagaan Dikti Kemdiknas); Prof Safri Nugraha (Guru Besar Fakultas Hukum UI), dan lain-lainnya.
Marrik berharap, Nuffic Neso Indonesia dapat mendampingi perguruan-perguruan tinggi Indonesia dalam mempersiapkan pergerakan para akademisi dari dan ke Belanda. Menurut data Nuffic Neso, sampai saat ini ada lebih dari 1.500 program studi internasional di Belanda.

sumber: sini

Tiap Tahun Kemkominfo Sediakan 190 Beasiswa

MAKASSAR, FisMat C++ Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) setiap tahun menyediakan sedikitnya 150 beasiswa untukchief information officer, dan 40 beasiswa pascasarjana khusus program ilmu komunikasi.
"Program untuk master teknologi informasi dan ilmu komunikasi ini disediakan setiap tahun untuk pengembangan SDM di lingkup Kemkominfo," kata Kepala Badan Litbang dan SDM Kemkominfo Aizirman Djusan, Senin (6/6/2011) di Makassar.

Pada pembukaan Bimbingan Teknis Budaya Dokumentasi dan Sertifikasi Aparat Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan di Makassar itu, ia mengatakan bahwa peningkatan kapasitas SDM pengelola informasi dilakukan dengan dua cara, yakni secara formal melalui jalur pendidikan, dan informal melalui pelatihan atau bimbingan teknis.
Khusus mengenai pemberian beasiswa S-2 untuk 40 orang, dia mengatakan bahwa 20 orang akan mendapat kesempatan belajar di Universitas Indonesia di Jakarta, dan 20 orang lainnya belajar di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Berkaitan dengan hal itu, dia mengatakan bahwa jajaran Kemkominfo di daerah dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kapasitasnya. Informasi beasiswa program 2011 dapat diakses pada layanan situs www.depkominfo.go.id atau www.dikti.go.id.

sumber: sini

Nyontek Masal di UN SD

SURABAYA, FisMat C++ Kasus contek massal saat ujian nasional (UN) 2011, tingkat Sekolah Dasar (SD), yang terjadi di SDN Gadel 2, Tandes, Surabaya diduga dilakukan secara sistematis.
"Kami merekomendasikan UN di SDN 2 Gadel tidak perlu diulang agar tidak merugikan murid dan orangtua, tapi kepsek, wali kelas dan guru F perlu mendapatkan sanksi administratif," kata anggota Tim Independen Pemkot Surabaya Prof Daniel M Rosyid di Surabaya, Minggu (5/6/2011).

Menurut dia, AL, siswa pintar di SDN itu yang mengerjakan jawaban soal untuk didistribusikan kepada rekan-rekannya, terpaksa memberikan contekan kepada teman-temannya, karena "perintah" dari oknum guru, bahkan sekolah itu sempat mengadakan "gladi resik" contek massal itu.
"Kami juga menemukan praktik bullying (menghardik) terhadap AL, karena itu kami merekomendasikan keluarga AL dilindungi oleh pihak kepolisian dari intimidasi. Ancaman tersebut berasal dari guru senior dalam hal ini, wali kelas dan sesama temannya," katanya.
Dalam pengakuannya, AL dipaksa memberikan contekan. "Guru saya, Pak F, yang menyuruh saya memberi contekan. Sebelum UN justru dia mengatakan kapan lagi saya bisa membalas budi para guru. Kata Pak F, apa tidak kasihan kalau teman saya tidak lulus," kata Daniel menirukan AL.
"Laporan kecurangan dari keluarga AL kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Surabaya sudah menjadi kewajibannya. Laporan kecurangan ini harusnya direspons secepatnya. Kejujuran dari masyarakat harus dijaga dan jangan sampai ada kesan kalau jujur yang ajur (hancur)," katanya.
Sementara itu, anggota tim independen lainnya, Kresnayana Yahya, mengatakan, ada problem komunikasi dalam kasus mencontek massal tersebut.
"UN yang seharusnya menjadi tolak ukur, justru menciptakan tekanan kepada siswa, sehingga siswa cenderung merasa ketakutan untuk menolak jika diminta oleh guru," katanya.
Namun, Kepala Disdik Surabaya Sahudi belum dapat dikonfirmasi, sedangkan pihak kepolisian mengaku belum ada tindakan penjagaan khusus kepada AL dan keluarganya, karena polisi menilai kasus itu sebaiknya diselesaikan secara internal, bukan pidana.
Untuk menyukseskan praktik mencontek itu, wali kelas AL sempat melakukan tiga kali simulasi, sehingga masing-masing siswa sudah tahu perannya masing-masing dengan Al sebagai pemasok bahan contekan, lalu ada yang menggandakan jawaban contekan dan ada yang mengedarkannya ke kelas lain.

sumber: sini
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Cheap Web Hosting