Senin, 06 Juni 2011

UKP4 Melaporkan Kemendiknas Lambat Serap Anggaran


FisMat C++ Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) melaporkan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) merupakan institusi negara yang paling lamban menyerap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2010.
Dari total anggaran sebesar Rp200 triliun, kementerian ini menyisakan anggaran tidak terserap hingga Rp16 triliun.  "Kami belum mengetahui masalah ini tapi kami kaji mendalam," kata Ketua UKP4 Kuntoro Mangkusubroto disela Citi Economic Political Outlook 2011, di Ballroom Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Rabu, 30 Maret 2011.

Menurut Kuntoro, penyerapan anggaran Kemendiknas ini sangat disayangkan karena masih ada lembaga negara nonkementerian yang bisa menyerap anggaran diatas 95 persen. Salah satu institusi negara itu adalah Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang mampu menyerap anggaran hingga 98 persen karena mengimpelemntasikan program Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh. "Nyombong dikit boleh dong," kata Kuntoro yang merupakan mantan Ketua BRR.

Kendati masih ada kementerian yang lamban dalam penyerapan anggaran, UKP4 secara umum memuji penyerapan anggaran yang rata-rata sudah diatas 90 persen. "Ini bagus, nanti tinggal kita maksimalkan," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan juga mendorong sepuluh instansi pemerintah untuk menggenjot penyerapan belanja modal dalam APBN tahun 2011. Kemenkeu bahkan sampai harus memanggil 10 Kementerian dan lembaga  yang tahun ini menjadi pengguna anggaran terbesar negara.

Kesepuluh Kementerian yang dianggap masih lamban menyalurkan anggaran selama awal tahun itu antara lain Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertahanan, Kementerian Agama, Kementerian Perumahan Rakyat, dan Kementerian Pertanian

Data Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu menunjukan pagu belanja modal APBN 2011 sebesar  Rp135,8 triliun. Dari alokasi dana tersebut, sebanyak 10 Kementerian dan Lembaga tercatat memiliki pagu belanja modalnya hingga Rp113,5 triliun. Sayangnya, hingga akhir Februari, Kemenkeu mencatat baru sekitar 5 persen dari anggaran ke-10 instansi pemerintah itu yang sudah terserap.

Seperti diketahui, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan penyerapan anggaran selama 2010 diperkirakan mencapai 93,6 persen dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penyerapan ini mencapai rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Menurut dia, rata-rata penyerapan anggaran dalam empat tahun sebesar 90,4 persen. Penyerapan anggaran tertinggi sebelumnya sebesar 91,6 persen yang terjadi pada 2009, dan bisa terpecahkan tahun ini.
sumber: sini

FITRA: Anggaran Pendidikan Tinggi Rp28 Triliun


FisMat C++ Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) kembali merilis anggaran pendidikan pemerintah. Untuk tahun ini, FITRA menemukan adanya perbedaan yang signifikan alokasi anggaran untuk perguruan tinggi dan pendidikan dasar.

Menurut Kordinator Investigasi dan Advokasi FITRA, Uchok Sky Khadafi, kebijakan anggaran Kementerian Pendidikan Nasional untuk tahun 2011 ternyata lebih mengutamakan pendidikan tinggi daripada pendidikan dasar, menengah atau pendidikan anak usia dini, non formal, dan informal.

Uchok memaparkan, pada tahun anggaran 2011 ini, anggaran kepada satuan kerja Ditjen pendidikan tinggi sebesar Rp28 triliun. Sedangkan, untuk Ditjen pendidikan dasar hanya dialokasikan sebesar Rp12 triliun; Ditjen pendidikan menengah dialokasikan sebesar Rp5 triliun, dan Ditjen pendidikan anak usia dini, non formal, dan informal dialokasikan sebesar Rp2,9 trilun.

"Alokasi anggaran untuk ditjen pendidikan tinggi sebesar Rp28 triliun menodai rasa keadilan bagi pendidikan dasar dan menengah," kata Uchok dalam keterangan persnya yang diterima VIVAnews.com. Senin, 6 Juni 2011.

Dia menambahkan, jumlah perguruan tinggi di indonesia masih sangat sedikit untuk setiap provinsi. Apalagi, menurutnya, jumlah mahasiswa seluruh indonesia hanya sebanyak 4,8 juta orang.  Tetapi, pemerintah melalui APBN 2011 telah mengalokasi anggaran sebesar Rp28 triliun.

"Sedangkan untuk pendidikan dasar dan menengah, dimana jumlah siswa lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa," ujarrnya.

Menurut data FITRA, jumlah siswa SD berjumlah 27.384.329 orang; jumlah siswa SMP sebanyak 8.980.429 orang; jumlah siswa SMA sebanyak 3.857,245 orang. Dan jumlah siswa SMK sebanyak 3.094.051 orang. Kalau dijumlah siswa antara SD, SMP, SMA, dan SMK, maka jumlah seluruhnya siswa sebanyak 43.316.054 siswa.

"Dengan demikian, dari kebijakan anggaran seperti ini, berarti pemerintah telah mentelantarkan pendidikan dasar dan menengah, dan memanjakan perguruan tinggi," tegas Uchok.

Karena itu, FITRA mendesak Komisi X DPR, harus berani untuk memprioritas kebijakan anggaran yang berpihak kepada pendidikan dasar, dan menengah bukan pendidikan tinggi.  "Dan ini artinya, alokasi anggaran untuk perguruan tinggi harus diturunkan, dan alokasi anggaran untuk pendidikan  dasar dan menengah harus dinaikan pada tahun anggaran 2012 ini," harapnya.
Salah Paham
Namun, Kepala Pusat Informasi Kemendiknas, Ibnu Hamad membantah data yang dirilis oleh FITRA. Dia menegaskan, sebenarnya anggaran untuk pendidikan dasar tidak berkurang. Hanya saja, anggaran dari pemerintah pusat langsung dialokasikan ke pemerintah daerah.

"Cara membacanya FITRA salah, dana untuk pendidikan dasar sebenarnya tetap besar. Karena sekarang pengelolaan anggaran tidak hanya di Kemendiknas," jelas Ibnu.

Sedangkan untuk anggaran perguruan tinggi, juga sebenarnya tidak besar. Sebab, dalam anggaran itu juga untuk program-program lain bagi mahasiswa yang tidak mampu. "Seperti ada program Bidik Misi, itu bagi mahasiswa yang kurang mampu, anggarannya sebesar Rp500 per bulan. Nah, program itu sudah berjalan sejak tahun lalu (2010)," terangnya.

Untuk itu, agar masyarakat tidak salah paham, sebenarnya anggaran untuk pendidikan dasar tidak menurun. "Sekali lagi, sebetulnya tidak rendah. Karena anggaran untuk pendidikan dasar langsung diberikan ke pemerintah daerah," tegasnya.
sumber: sini

Indonesia Dianggap Lakukan Lompatan di Anggaran Pendidikan

FisMat C++, NUSA DUA - Forum Menteri Pendidikan Asia Tenggara dan Asia Timur berkumpul bersama di Bala untuk membahas berbagai isu penting bidang pendidikan. Pertemuan yang dihadiri delegasi dari sembilan negara antara lain Cina, Kamboja, Laos, Malaysia, Mongolia, Republik Korea, Thailand, Vietnam dan Indonesia sebegai tuan rumah itu dimaksudkan untuk membahas persoalan pendidikan di kawasan Asia sekaligus mencarikan solusinya.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh yang ditemui usai membuka Ministerial Forum and Conference on System Assessment and Benchmarking for Education Result (SABER) di Bali International Conference Center, Westin Hotel, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Minggu (5/6), menyatakan bahwa isu pokok di antara negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur adalah saling berbagi pengalaman tentang cara melakukan penilaian sistem pembelajaran dan kinerja pendidikan. 

Menurutnya, keputusan Indonesia mengalokasikan sekurang-kurangnya 20 persen dana APBN untuk dunia pendidikan sebagaimana amanat konstitusi merupakan keputusan tepat. "Keputusan untuk melaksanakan anggaran 20 persen untuk pendidikan dan diterjemahkan dalam bentuk BOS (Bantuan Operasional Sekolah)  dinilai sangat-sangat berani dan sangat tepat," katanya.

Lebih lanjut Nuh mengatakan, kebijakan mengalokasikan 20 persen anggaran negara untuk pendidikan telah berhasil meningkatkan angka partisipasi sekolah. Selain itu, katanya, jurang pemisah antara masyarakat kaya dan miskin pun juga semakin sempit. 

"Angka partisipasi kasar (APK) naik drastis. Itu contoh hasil assessment. Bisa diterapakan oleh negara lain dan kita pun juga bisa mengambil (contoh) dari orang lain," katanya.

Sementara Managing Director Bank Dunia Mahmoud Mohieldin mengatakan, Indonesia telah membuat lompatan besar dalam penencapaian pendidikan untuk semua atau education for all (EFA). Secara statistika, kata dia, hal ini bisa dilihat dari hasil penilaian melalui Programme for International Student Assessment (PISA).

Program tersebut merupakan cara untuk mengukur kemampuan siswa pada mata pelajaran Membaca, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). "Pendidikan memiliki peran penting untuk pengembangan berkelanjutan. Tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial. Tantangannya adalah mempromosikan peningkatan kualitas pendidikan untuk semua," kata Mahmoud.

Kegiatan yang diselenggarakan hasil kerjasama Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Bank Dunia dan Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Sains, Kebudayaan, dan Komunikasi (UNESCO) itu dihadiri oleh 150 pakar pendidikan dari berbagai negara di antaranya Australia, Cina, Jepang, Kolombia, Korea, dan Polandia.

Forum tersebut juga membahas kebijakan informasi pendidikan, penilaian, guru, otonomi pendidikan dan akuntabilitas, teknologi informasi dan komunikasi, dan sistem pendidikan tinggi, yang berkembang di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Kegiatan akan dilanjutkan dengan konferensi pada 6-8 Juni 2011 di tempat yang sama. (Cha/jpnn)


sumber: sini

Bank Dunia Memuji Pendidikan di Indonesia

FisMat C++, Nusa Dua: Bank Dunia memuji pendidikan di Indonesia yang dinilai mengalami perkembangan yang cukup signifikan dengan dianggarkannya 20 persen dana pendidikan di APBN dan APBD. "Perkembangan itu semakin unik, jika dilihat dari kemampuan Indonesia dalam soal pembinaan peserta didik yang jumlahnya sangat banyak bahkan keempat terbesar di dunia," kata Managing Director The World Bank Mahmoud Mohieldin di Bali, Ahad (5/6).


Hal tersebut dikatakannya di sela-sela acara "System Assesment and Benchmarking for Education Results (SABER), di Nusa Dua, Bali. Dia mengatakan, jumlah peserta didik di negara kepulauaan itu sebanyak 53 juta orang dengan jumlah staf pengajar 2,7 juta. Jumlah peserta didik itu hampir setara dengan yang ditanggung China, India dan Amerika Serikat.

Selain bisa melakukan pembinaan yang cukup baik terhadap peserta didik, tambah dia, pemerintah Indonesia juga telah menerapkan peningkatan sumber daya manusia dalam hal penyetaraan guru.

"Bentuknya adalah dengan melakukan sertifikasi terhadap staf pendidik di Indonesia, dengan memberikan batas minimal pendidikan yang harus ditempuh seorang guru," ujarnya.

Mahmoud menilai secara umum pendidikan di Indonesia bisa membuat seluruh lapisan merasakan hasil dari sistem yang diterapkan. Tapi masih cukup banyak tantangan yang harus ditangani Indonesia dalam hal pendidikan, karena wilayahnya yang luas dan memiliki banyak pulau.

Sementara Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, pada acara pertemuan menteri pendidikan dari sembilan negara di kawasan Asia itu akan membahas beberapa isu yang cukup penting terkait "SABER".

"Pembahasan yang paling utama adalah cara penilaian sistem pembelajaran dan kinerjanya apakah sudah sesuai dengan negara tersebut dan lainnya," katanya.

Dia mengatakan, selain itu semua pihak bisa saling bertukar pengalaman tentang sistem pendidikan, sehingga sistem yang dianggap baik tersebut dapat diterapkan. Peserta dalam forum Menteri Pendidikan itu, antara lain berasal dari Indonesia, China, Kamboja, Laos, Korea dan Vietnam.(Ant/ICH)


sumber: sini

Minggu, 05 Juni 2011

Bali Juara Nasional Kelulusan UN Tingkat SMP/MTs 2011


FisMat C++ Jika sebelumnya, sukses mempertahankan tingkat kelulusan terbaik secara nasional pada Ujian Nasional (UN) tingkat SMA, Provinsi Bali kembali sukses mempertahankan juara tingkat nasional kelulusan terbaik UN tingkat SMP.

“Bali terbaik secara nasional. Kita sukses mempertahankan prestasi seperti tahun lalu,” kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, Ida Bagus Anom, Sabtu 4 Juni 2011.

Dia mengatakan, tingkat kelulusan di Bali mencapai 99,93 persen dari jumlah peserta yang mencapai 56.690. Dengan begitu, hanya 38 siswa saja yang tidak lulus mengikuti UN tahun ajaran 2010/2011 ini.

Menurut dia, 38 siswa yang tidak lulus tersebut tersebar di sekolah di beberapa provinsi, di antaranya 1 siswa di Kabupaten Klungkung, 2 siswa di Kabupaten Karangasem, 2 siswa di Kabupaten Badung dan 33 siswa di Kabupaten Buleleng. “Terbesar di Kabupaten Buleleng. Tingkat ketidaklulusan semata-mata lantaran ketidaksiapan siswa dalam mengikuti mata pelajaran yang diujikan,” kata dia.

Nilai tertinggi berdasarkan UN murni diperoleh dalam bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Matematika, dan Bahasa Inggris. Nilai tertinggi UN murni ketiga bidang studi itu adalah 10,00. Sedangkan, jika dilihat dari nilai akhir, nilai tertinggi diperoleh dari bidang studi Matematika, yakni 10,00.

Sementara itu, terkait kesuksesan Provinsi Bali meraih prestasi membanggakan di tingkat nasional, Anom mengatakan hal tersebut tak lepas dari dukungan pemerintah, sekolah, orang tua murid dan siswa sendiri.

Pemerintah Bali, tambah dia, sangat menyiapkan betul UN SMP tahun ini dengan menggelontor dana Rp15 miliar untuk persiapan seperti ujian try out dan lain sebagainya. Jumlah itu, katanya, belum ditambah dengan dana yang digelontor oleh kabupaten/kota. “Jika dijumlah dengan dana yang digelontor kabupaten/kota, jumlahnya lebih dari itu. Ini sebagai bentuk kepedulian kami terhadap persiapan UN. Bersyukur Bali memperoleh hasil terbaik,” katanya.

Sementara itu, pascapengumuman kelulusan yang dipusatkan di sekolah masing-masing, tak nampak kegembiraan berlebihan yang dilakukan oleh siswa. Sebagian di antara mereka, memilih untuk pulang ke rumah menyampaikan kabar gembira kelulusan mereka kepada orang tua mereka. Sebagian lainnya lebih memilih melakukan persembahyangan di sekolah masing-masing sebagai bentuk wujud syukur. “Setelah sembahyang, mau langsung pulang untuk menyampaikan kabar kelulusan ini kepada orang tua,” sebut Diah Indira Maha Putri, siswa SMPN 1 Kuta yang memperoleh ranking 3 tertinggi berdasarkan Nilai Akhir (NA).

Dari pantauan VIVAnews.com tak nampak konvoi kendaraan roda dua seperti yang terjadi pada kelulusan siswa SMA sebelumnya. (eh)
Laporan: Bobby Andalan l Bali
• VIVAnews


sumber: sini

Siswa/Siswi di Jakarta Timur Lulus 100%

JAKARTA (FisMat C++) – Seluruh peserta Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jakarta Timur (Jaktim) yang berjumlah 35.086 siswa dinyatakan l lulus UN 100 persen. Prestasi ini meningkat tajam dibanding tahun lalu yang hanya mencapai 99,25 persen.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) Jaktim, Abdul Rasyid mengaku bersyukur sekaligus bangga dengan prestasi tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini tercapai berkat kerjasama yang baik antar guru, kepala sekolah, kasie pendidikan di tiap kecamatan, dan komunitas pendidikan terkait dalam meningkatkan kualitas.

“Angka kelulusan UN SMP 2011 di Jaktim mencapai 100 persen. Seluruhnya berasal dari 92 sekolah negeri dan 157 sekolah swasta di Jaktim. Nilai rata-rata yang masing-masing siswa yakni tertinggi 38,20, dan terendah 22, 50. Dengan demikian, Jaktim berada di urutan kedua setelah Jakarta Selatan,” kata Abdul Rasyid saat dihubungi melalui ponselnya, Sabtu (4/6).
Kendati demikian, Abdul Rasyid berharap, prestasi seperti ini dapat terus dipertahankan dan bila perlu ditingkatkan, sehingga wilayah Jaktim dapat terus mencetak pelajar yang berprestasi dan siap bersaing dengan pelajar dari wilayah lain. (yulian/B)

Santa Ursula Raih Nilai Tertinggi UN SMP di Jakarta

GAMBIR (FisMat C++) – Siswa-siswi tingkat SMP di DKI Jakarta kembali mengukir prestasi. Dari 134.061 siswa yang mengikuti Ujian nasional (UN), hanya tujuh siswa yang dinyatakan tidak lulus.
“Artinya, kualitas dunia pendidikan di DKI Jakarta semakin baik. Mudah-mudahan di tahun berikutnya kita bisa mencapai kelulusan 100 persen. Kami akan berupaya keras untuk mencapai tersebut,” kata Taufik Yudi Mulyanto, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, kemarin.

Dibanding tahun lalu, tingkat kelulusan tahun 2011 sangat tinggi. Angka kelulusan siswa SMP/MTS di DKI pada 2010 hanya 99,81 persen, pada 2011 persentase kelulusan siswa meningkat jadi 99,99 persen.
Taufik menyebutkan, tujuh siswa yang tidak lulus tersebut berasal dari sekolah swasta. Antara lain, 1 orang dari SMP Sultan Hasanudin, 1 dari SMP Wiyatamandala, 1 dari SMP Taman  Siswa, dan 4 dari SMP Darul Maarif.
Untuk prestasi, nilai tertinggi dalam UN 2011 diraih SMP Santa Ursula, disusul  SMPN 115, SMPN 85, SMP Kanisius, SMPN 19, SMPN 41, SMP Labschool Kebayoran, SMPK 2 Penabur, SMP Kristen VII, dan SMPN 49.
“SMP swasta memegang nilai tertinggi. Ini artinya, SMP negeri harus bekerja lebih keras lagi supaya dapat melampui prestasi SMP swasta,” pintanya.
Untuk prestasi nilai UN tertinggi di tingkat siswa diraih oleh dua siswa SMP Mahatma Gandi School, Kemayoran, Jakarta Pusat yaitu, Clarissa (39,6) dan Erica (39,4). Sementara lainnya, Ibrahim Ramadhan dari SMPN 19 (39.40), Dendi Reza Pahlevi dari SMPN115 (39.40), Ivana Purnawijaya dari SMPK2 Penabur (39.35), Frida Avianing IS  dari SMPN 172 (39.35), Chairunisa Niken    dari SMPN 109 (39.35), dan Khairun Nadiya dari SMP Al Azhar 12 (39.20).
“Peserta didik yang berprestasi meraih nilai tertinggi dalam UN harus tetap diberikan perhatian khusus dan dibina secara serius. Sehingga di SMA nanti, mereka bisa berprestasi membanggakan DKI,” harapnya. (john/B)
sumber: sini

Rata-Rata Nilai UN Bahasa Indonesia SMP/MTs Paling Akhir

FisMat C++Jakarta - Rata-rata nilai akhir ujian nasional sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs) mata pelajaran bahasa Indonesia berada di urutan terakhir. Hari ini, Sabtu, 4 Juni 2011, 99,45 persen siswa SMP/Mts dinyatakan lulus. Dari 3.660.803 peserta ujian nasional, total yang lulus sebanyak 3.640.569 siswa. Jumlah itu meningkat 0,03 persen dibanding tahun sebelumnya.

Masih rendahnya nilai mata pelajaran bahasa Indonesia, menurut Mansyur Ramli, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional, karena siswa kurang piawai membaca cepat sedangkan mayoritas soal diawali dengan soal bacaan. "Soalnya sendiri tidak terlalu sulit,” katanya, Kamis, 2 Juni lalu. 

Siswa dituntut mendalami makna dan menjawab cepat, sementara banyak kemiripan dalam pilihan jawaban. "Kalau dibuat rata-rata, bahasa Indonesia termasuk paling rendah," kata Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, Rabu lalu, 25 Mei 2011.

Dibanding mata pelajaran lainnya, rata-rata nilai bahasa Indonesia terbawah, yaitu 7,49 dengan nilai terendah tak sampai 1,00 hanya 0,80 dan tertinggi 9,90. Angka itu lebih rendah dibanding rata-rata nilai mata pelajaran matematika, yaitu 7,50, dengan nilai terendah 0,80 dan nilai tertinggi mencapai nilai sempurna, 10,00. Adapun mata pelajaran IPA, rata-rata nilainya 7,60 dengan nilai terendah 1,00 dan tertinggi 10,00. 

Sementara itu, nilai rata-rata bahasa Inggris justru di peringkat teratas, berselisih 0,16 angka dari bahasa Indonesia, yaitu 7,65 dengan nilai terendah 0,90 dan nilai penuh untuk nilai tertinggi.

Saat ini, Kementerian tengah menggalang masukan dari berbagai kalangan, baik dari universitas maupun asosiasi untuk terus memperbaiki kualitas soal UN. Khusus soal bahasa Indonesia, Mansyur mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah berkordinasi dengan Universitas Negeri Yogyakarta.

MARTHA THERTINA



sumber: sini

Sanksi Bagi Siswa/Siswi SMP Yang Corat-Coret di Hari Kelulusan

FisMat C++Surabaya - Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Harun memastikan tak ada aksi coret-coret dalam pengumuman kelulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ataupun Madrasah Tsnawiyah (MTs), Sabtu 4 Juni 2011.

"Kami pastikan, seluruh kepala sekolah kami perintahkan dan berikan sanksi bagi siswa yang membandel," kata Harun, Sabtu, 4 Juni 2011 siang. Sanksi yang diberikan berupa pemanggilan orang tua bagi siswa yang terbukti tetap menggelar konvoi ataupun coret-coret dalam kelulusan kali ini.



Pantauan Tempo, prosesi kelulusan siang ini memang tak seperti kelulusan tingkat SMA beberapa waktu lalu. Meski saat itu pengumuman kelulusan dilakukan dengan mengirimkan surat kepada wali murid, coret-coret baju dan konvoi masih saja memenuhi jalanan Surabaya.

Kepala SMPN 1 Surabaya, M. Mochtar, mengatakan, sesuai dengan kesepakatan seluruh kepala sekolah dan arahan Dinas Pendidikan, pengumuman kelulusan diberikan secara langsung kepada wali murid. Langkah ini untuk menghindari kedatangan siswa ke sekolah. "Wali murid jauh hari kami imbau untuk mengawasi anak mereka, jangan sampai keluar rumah untuk konvoi ataupun coret-coret," ujar Mochtar.

Berdasarkan catatan Dinas Pendidikan Jawa Timur, dari 540.608 siswa SMP/MTs yang ikut Ujian Nasional setidaknya terdapat 1.154 siswa yang dinyatakan tak lulus.

Nilai Ujian Nasional tertinggi di Jawa Timur diraih Anas Jatikusuma, pelajar SMPN 1 Tuban, dengan nilai 39,01. Disusul Dwi Oktaviona, pelajar SMPN 3 Jombang, dengan nilai 38,60, dan urutan ketiga Fernaldi Sutandyo, pelajar SMP Petra Surabaya, dengan nilai 38,40.

FATKHURROHMAN TAUFIQ



sumber: sini

Seleksi Jalur Mandiri Diselenggarakan Setelah SNMPTN

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdiknas Djoko Santoso menyatakan perguruan tinggi negeri diperkenankan untuk menyelenggarakan seleksi jalur mandiri setelah hasil ujian tertulis SNMPTN diumumkan, yakni pada 30 Juni 2011.

"Silakan saja bagi PTN yang memang masih memiliki daya tampung kursi untuk masing-masing jurusan bisa menyelenggarakan secara mandiri, namun kami ingin mengingatkan kuotanya tidak boleh melebihi 40 persen," kata Djoko pada penjelasan pers pelaksanaan ujian tertulis SNMPTN di Jakarta.

"Setelah proses SNMPTN selesai, PTN bisa mengadakan seleksi, tetap dengan sejumlah catatan, yakni jalur mandiri bukan untuk meraup dana dari penetapan biaya masuk yang tinggi, masih ada peluang bagi peserta yang tidak lolos seleksi SNMPTN untuk masuk pada PTN yang diminati. Selain itu, untuk mengakomodasikan ijazah sekolah menengah atas yang berasal dari sekolah di luar negeri," katanya.

Meski tidak dapat menyebutkan secara rinci jumlah PTN yang akan menyelenggarakan seleksi jalur mandiri, namun Djoko mengatakan mayoritas PTN kemungkinan masih memiliki kursi kosong, seperti ITB dengan nama "ITB untuk Semua" dan "ITB kemitraan Nusantara".

Demikian juga, PTN lainnya, seperti Universitas Indonesia, IPB, UNJ dan lain sebagainya diperbolehkan menyelenggarakan seleksi jalur mandiri yang pelaksanaannya diserahkan ke masing-masing pengelola PTN.

Sementara itu, Ketua SNMPTN yang juga Rektor IPB Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto mengingatkan agar peserta dan masyarakat tidak terpancing iming-iming oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menjanjikan jaminan masuk ke PTN yang diminati dengan imbalan uang dalam jumlah tertentu.

"Kami menerima laporan adanya layanan pesan singkat atau short message service (SMS) yang berisi tawaran meloloskan peserta dalam ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Kami ingatkan agar masyarakat tidak mempercayai hal itu," katanya.

Demikian juga beredar SMS dan pesan lainnya yang menyatakan seolah-olah dapat membantu meloloskan peserta. "Tolong disampaikan bahwa yang seperti itu tak mungkin bisa tembus," ucapnya menambahkan.

Herry mengatakan peluang lolos dalam seleksi ujian tertulis selalu ada bila peserta mengikuti prosedur resmi yang sudah ditetapkan oleh panitia SNMPTN, sehingga tidak perlu terpengaruhi isu yang hanya menguntungkan oknum-oknum tertentu saja
Redaktur: taufik rachman
Sumber: antara

sumber: sini
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Cheap Web Hosting