Les Privat FisMat-C -- GARUT - Pelajar mengenakan seragam sekolah berkeliaran saat jam sekolah dirazia jajaran Petugas Satpol PP Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (26/7). Kepala Satopol PP Kabupaten Garut, Suherman mengataka razia tersebut dilakukan sebagai peringatan terhadap pelajar agar tidak bolos atau berkeliaran di pusat kota saat jam sekolah.
"Kita beri mereka (pelajar) shock terapy, agar mereka tidak berkeliaran saat jam sekolah," katanya.
Setelah dilakukannya razia disejumlah tempat keramaian kota dan taman kota, diharapkan Suherman para pelajar tidak melakukan perbuatannya kembali untuk bolos sekolah. Selain itu, pihak sekolah kata Suherman diminta meningkatkan pengawasannya terhadap anak didiknya agar tidak berkeliaran saat jam sekolah karena khawatir akan terjadi bentrokan atau tawuran antar siswa.
"Kedepan kita harapkan tidak ada lagi pelajar yang berkeliaran di kota saat jam sekolah," katanya.
Dalam razia yang digelar sekitar pukul 09.00 WIB hingga menjelang siang itu, petugas berhasil mengamankan 17 pelajar berseragam lengkap dengan logo nama sekolahya. Mereka diamankan di sejumlah tempat keramaian kota seperti alun-alun Garut, Jalan Ahmad Yani, Jalan Ciledug, Pengkolan, dan kawasan taman Ngamplang.
Pelajar yang terjaring razia tersebut diangkut petugas untuk diperiksa alasan berkeliaran saat jam sekolah serta dicatat identitas diri dan nama sekolahnya. Setelah dicatat dan diberikan pembinaan oleh petugas, pelajar tersebut dikembalikan ke sekolahya masing-masing sekaligus memberitahukan kepada guru sekolah alasan diamankan siswanya.
"Kita amankan mereka, dan kita juga kontak gurunya selanjutnya diserahkan ke sekolahnya masing-masing untuk dibina lebih lanjut," jelas Suherman.
sumber: sini
Rabu, 27 Juli 2011
Razia Pelajar Yang Berkeliaran di Jam Sekolah
Mengagumkan!! Prestasi Anak Tuna Rungu
Les Privat FisMat-C -- Dilahirkan dengan keterbatasan kemampuan mendengar serta berbicara, tidak membuat Srihanik (17) berputus asa dalam menggapai prestasi. Karena kegigihannya itu, remaja asal Dusun Becek, Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjuarai lomba Desain Grafis Sekolah Luar Biasa tingkat Provinsi Jawa Timur.
Ia berhasil menggondol juara pertama dengan mengusung pembuatan poster serta pembuatan website beserta desainnya. Dalam website yang mengantarkannya sebagai pemenang itu, ia mengambil tema Bahaya Narkoba.
Dalam perlombaan Pendidikan Keterampilan yang digelar di Surabaya, 23-25 Juli 2011 lalu itu, siswi yang duduk dikelas VIII SLB Dharma Wanita, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri tersebut menyisihkan 19 peserta utusan daerah lain se-Jawa Timur.
Ia berhasil menggondol juara pertama dengan mengusung pembuatan poster serta pembuatanwebsite beserta desainnya. Dalam website yang mengantarkannya sebagai pemenang itu, ia mengambil tema Bahaya Narkoba.
"Hingga pemenang diumumkan, saya tidak menyadarinya. Sampai saya diberitahu untuk maju ke panggung. Saat menerima piala itu, saya baru menangis haru," ujar Srihanik sebagaimana diartikan oleh Nanda, guru pembimbing desain, Rabu (27/7/2011).
Sementara itu, Nanda menuturkan, sebelum berlomba di tingkat provinsi, Srihanik mengikuti seleksi antar SLB tingkat Kabupaten Kediri yang digelar di Kecamatan Gurah pada 18 Juli lalu. Saat itu, lanjut Nanda, putri pasangan Tukiman dan Sulastri, sama sekali belum mengenal komputer, apalagi desain grafis.
"Namun karena kecerdasannya, dalam waktu dua hari saja belajar, dia sudah mampu menyerap materi dengan baik," bangga Nanda.
Dengan prestasi gemilangnya itu, Nanda menambahkan, Srihanik otomatis berhak mewakili Jawa Timur dalam lomba serupa tingkat Nasional yang akan digelar sekitar September nanti. "Saat ini kami bersiap untuk event nasional itu," pungkas Nanda.
Sebelumnya, Srihanik sempat dilarang bersekolah oleh keluarganya. Sebab, selain kondisinya yang mengalami tuna rungu tuna wicara itu, keluarganya juga hidup dalam keterbatasan ekonomi. Bapaknya, Tukiman, hanya berprofesi sebagai pedagang kerupuk sambal di Pasar Tradisional Pesantren, Kota Kediri.
sumber: sini
Andika Tenteng Kursi Sendiri Ke Sekolah
Les Privat FisMat-C -- Sebuah kisah menggugah kembali datang dari dunia pendidikan. Andika Imam Taufik (9), siswa kelas III SD Negeri Kotakusuma, Sangkapura, Bawean, membeli kursi plastik sendiri karena tak mampu membayar "biaya kursi" yang ditetapkan pihak sekolah. Kursi itu ditentengnya setiap hari ke sekolah.
Andika yang tercatat sebagai siswa kelas unggulan ICP (International Class Program) di sekolahnya terpaksa mendapat perlakuan berbeda di sekolah. Ia harus mengikuti pelajaran di bangku seadanya ketika teman lainnya duduk di kursi baru.
Untuk memasuki tahun pelajaran baru, Andika sebagai siswa ICP, diharuskan membayar biaya sebesar Rp 324.000 sesuai ketentuaan pihak sekolah. Biaya sekolah itu tidak termasuk biaya beli kursi yang nilainya Rp 55.000. Sebagai anak dari keluarga kurang mampu, Andika hingga kini belum bisa membayar biaya sekolah termasuk ‘biaya kursi’ sekolah. Oleh karena itu, ia harus menjalani pendidikan di bangku seadanya. Ibunda Andika, Musnada (35), pun akhirnya nekad membeli kursi plastik sendiri ke pasar, meskipun harus dengan cara kredit.
“Saya sempat diberitahu penjual di pasar kalau sudah ada orang yang membelikan kursi untuk teman-teman sekelas Andika. Karena saya bersikeras, penjual membolehkan saya membeli kursi dengan cara cicilan dan harga potongan,” ujar Musnada, Senin (25/7/2011).
Musnada menjelaskan, ia mendapatkan informasi dari tetangga yang putranya juga sekelas dengan Andika bahwa ada rapat wali murid yang menyebutkan penarikan uang kursi sebesar Rp 55.000.
Andika yang tercatat sebagai siswa kelas unggulan ICP (International Class Program) di sekolahnya terpaksa mendapat perlakuan berbeda di sekolah. Ia harus mengikuti pelajaran di bangku seadanya ketika teman lainnya duduk di kursi baru.
Untuk memasuki tahun pelajaran baru, Andika sebagai siswa ICP, diharuskan membayar biaya sebesar Rp 324.000 sesuai ketentuaan pihak sekolah. Biaya sekolah itu tidak termasuk biaya beli kursi yang nilainya Rp 55.000. Sebagai anak dari keluarga kurang mampu, Andika hingga kini belum bisa membayar biaya sekolah termasuk ‘biaya kursi’ sekolah. Oleh karena itu, ia harus menjalani pendidikan di bangku seadanya. Ibunda Andika, Musnada (35), pun akhirnya nekad membeli kursi plastik sendiri ke pasar, meskipun harus dengan cara kredit.
“Saya sempat diberitahu penjual di pasar kalau sudah ada orang yang membelikan kursi untuk teman-teman sekelas Andika. Karena saya bersikeras, penjual membolehkan saya membeli kursi dengan cara cicilan dan harga potongan,” ujar Musnada, Senin (25/7/2011).
Musnada menjelaskan, ia mendapatkan informasi dari tetangga yang putranya juga sekelas dengan Andika bahwa ada rapat wali murid yang menyebutkan penarikan uang kursi sebesar Rp 55.000.
Musnada tidak bias menghadiri rapat wali murid kala itu karena ia harus bekerja. Saat itu, wanita yang bekerja sebagai penjual jamu pikulan keliling itu tak mengikuti rapat tersebut.
“Saya tidak ikut rapat dan saya juga tidak membayar karena belum ada uang. Biasanya bayarnya di belakang saat semesteran atau saat dapat uang waktu Lebaran,” terang Musnada, yang kini menjadi orangtua tunggal setelah suaminya meninggal dunia dua tahun lalu.
Perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah ini memiliki dua anak, Andika, dan si sulung Ana Lutfiyah yang masuk kelas VII MTs Umar Mas'ud, Sangkapura. Musnada mengaku sangat kesulitan menanggung biaya pendidikan anaknya, karena ia menjadi orangtua tunggal dan pemasukan yang didapat hanya dari berdagang kecil-kecilan. Dari penghasilan berjualan jamu, dalam sehari rata-rata ia mengantongi Rp 20.000 hingga Rp 35.000.
Penghasilan tersebut diputarnya kembali untuk membeli bahan pembuatan jamu, membeli beras, dan uang saku kedua anaknya. Untuk biaya pendidikan anak sulungnya, ia bersyukur karena ditanggung oleh Kepala MTs, Fatimah.
"Terus terang, ini karena hanya keinginan yang besar untuk menyekolahkan anak. Sebenarnya kondisi kami kurang mampu membiayainya," ujar Musnada.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Kotakusuma, Hadi Suwoyo, seperti dikutip dari Media Baweanmenyatakan, dirinya baru menjabat posisi saat ini. Sebagai kepala sekolah SDN Kotakusuma yang baru saja dilantik, sampai saat ini belum memutuskan program. Sehingga, menurutnya, apa yang berjalan merupakan kebijakan lama. Hadi menyebut, adanya siswa tidak mampu yang diharuskan mengeluarkan biaya pendidikan, akan dievaluasi kembali.
"Sebagai kepala sekolah yang baru di SDN Kotakusuma, tentunya akan mengevaluasi kebijakan lama, bila program yang selama ini baik, dilanjutkan. Tapi bila ada kebijakan dianggap kurang layak, kami evaluasi kembali," paparnya. (Dyan Rekohadi)
“Saya tidak ikut rapat dan saya juga tidak membayar karena belum ada uang. Biasanya bayarnya di belakang saat semesteran atau saat dapat uang waktu Lebaran,” terang Musnada, yang kini menjadi orangtua tunggal setelah suaminya meninggal dunia dua tahun lalu.
Perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah ini memiliki dua anak, Andika, dan si sulung Ana Lutfiyah yang masuk kelas VII MTs Umar Mas'ud, Sangkapura. Musnada mengaku sangat kesulitan menanggung biaya pendidikan anaknya, karena ia menjadi orangtua tunggal dan pemasukan yang didapat hanya dari berdagang kecil-kecilan. Dari penghasilan berjualan jamu, dalam sehari rata-rata ia mengantongi Rp 20.000 hingga Rp 35.000.
Penghasilan tersebut diputarnya kembali untuk membeli bahan pembuatan jamu, membeli beras, dan uang saku kedua anaknya. Untuk biaya pendidikan anak sulungnya, ia bersyukur karena ditanggung oleh Kepala MTs, Fatimah.
"Terus terang, ini karena hanya keinginan yang besar untuk menyekolahkan anak. Sebenarnya kondisi kami kurang mampu membiayainya," ujar Musnada.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Kotakusuma, Hadi Suwoyo, seperti dikutip dari Media Baweanmenyatakan, dirinya baru menjabat posisi saat ini. Sebagai kepala sekolah SDN Kotakusuma yang baru saja dilantik, sampai saat ini belum memutuskan program. Sehingga, menurutnya, apa yang berjalan merupakan kebijakan lama. Hadi menyebut, adanya siswa tidak mampu yang diharuskan mengeluarkan biaya pendidikan, akan dievaluasi kembali.
"Sebagai kepala sekolah yang baru di SDN Kotakusuma, tentunya akan mengevaluasi kebijakan lama, bila program yang selama ini baik, dilanjutkan. Tapi bila ada kebijakan dianggap kurang layak, kami evaluasi kembali," paparnya. (Dyan Rekohadi)
sumber: sini
SD Belajar Menjadi Wartawan
Les Privat FisMat-C -- Sebanyak 30 siswa kelas V SD Muhammadiyah Gresik Kota Baru menjadi wartawan. Mereka terbagi enam kelompok yang mewawancari beberapa orang di sekitar sekolah dengan latar belakang pekerjaan berbeda-beda, mulai dari tukang becak, penjual bunga, mahasiswa, hingga pemilik warung kopi.
Renanthera Rahmadwiningtyas, salah seorang siswa membawa kamera, dan alat tulis, bersama dengan empat temannya mendatangi penjual bunga, yang berjarak 100 meter dari sekolah . Dia bersama temannya sedang menjalani profesi sebagai jurnalis cilik untuk mewawancarai narasumber.
Tanpa rasa canggung anak-anak itu menyapa penjual bunga. "Selamat pagi, Bu! Sudah berapa lama Ibu ber jualan bunga di sini? Jenis bunga apa yang sangat digemari pembeli? Berapa penghasilan Ibu tiap hari?," mereka mengajukan pertanyaan kepada sang penjual bunga.
Shelma Ayu, siswa lainnya merasa senang bisa mewawancarai penjual kopi.
"Saya jadi tahu, penghasilan tiap hari, hari apa yang paling banyak pengunjungnya, sampai dengan berapa kilo kopi yang habis dalam sehari," papar Shelma Rabu (27/7).
Para siswa secara khusus mendapatkan tugas mengaplikasikan pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu wawancara orang dengan berbagai jenis pekerjaan. "Anak-anak harus diberikan pengalaman melakukan wawancara secara langsung kepada narasumber," tutur Ichwan Arif, guru Bahasa Indonesia di sekolah tersebut.
Menurut Ichwan, yang lebih penting adalah pembelajaran harus mengedepankan praktik, bukan hanya sekedar teori. Siswa dalam pembelajaran wawancara harus dipastikan melakukan sendiri. Sebelum praktik wawancara dan menjadi jurnalis cilik, mereka mendapat bekal terlebih dahulu , termasuk teori praktis wawancara dan mengubah hasil wawancara menjadi tulisan sederhana.
Siswa diperkenalkan dengan konsep 5W+1H ( what, where, when, who, why, dan how), bagaimana membuat pertanyaan yang baik dan mengena sesuai dengan tema yang akan dibahas , bagaimana adab dan etika wawancara dengan narasumber dan bagaimana cara mengolah data hasil wawancara secara sederhana. Masing-masing kelompok diberi tugas wawancara penjual bunga, penjual warung kopi, tukang becak, mahasiswa/mahasiswi, pedagang kaki lima, dan petugas kebersihan.
"Anak-anak berekreasi sambil menggali informasi melalui pembelajaran menjadi jurnalis cilik. Pembelajaran berorientasi pada enjoy and fun, tanpa mengurangi hakiki dari pembelajaran aplikasi," kata Ichwan.
sumber: sini
Renanthera Rahmadwiningtyas, salah seorang siswa membawa kamera, dan alat tulis, bersama dengan empat temannya mendatangi penjual bunga, yang berjarak 100 meter dari sekolah . Dia bersama temannya sedang menjalani profesi sebagai jurnalis cilik untuk mewawancarai narasumber.
Tanpa rasa canggung anak-anak itu menyapa penjual bunga. "Selamat pagi, Bu! Sudah berapa lama Ibu ber jualan bunga di sini? Jenis bunga apa yang sangat digemari pembeli? Berapa penghasilan Ibu tiap hari?," mereka mengajukan pertanyaan kepada sang penjual bunga.
Shelma Ayu, siswa lainnya merasa senang bisa mewawancarai penjual kopi.
"Saya jadi tahu, penghasilan tiap hari, hari apa yang paling banyak pengunjungnya, sampai dengan berapa kilo kopi yang habis dalam sehari," papar Shelma Rabu (27/7).
Para siswa secara khusus mendapatkan tugas mengaplikasikan pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu wawancara orang dengan berbagai jenis pekerjaan. "Anak-anak harus diberikan pengalaman melakukan wawancara secara langsung kepada narasumber," tutur Ichwan Arif, guru Bahasa Indonesia di sekolah tersebut.
Menurut Ichwan, yang lebih penting adalah pembelajaran harus mengedepankan praktik, bukan hanya sekedar teori. Siswa dalam pembelajaran wawancara harus dipastikan melakukan sendiri. Sebelum praktik wawancara dan menjadi jurnalis cilik, mereka mendapat bekal terlebih dahulu , termasuk teori praktis wawancara dan mengubah hasil wawancara menjadi tulisan sederhana.
Siswa diperkenalkan dengan konsep 5W+1H ( what, where, when, who, why, dan how), bagaimana membuat pertanyaan yang baik dan mengena sesuai dengan tema yang akan dibahas , bagaimana adab dan etika wawancara dengan narasumber dan bagaimana cara mengolah data hasil wawancara secara sederhana. Masing-masing kelompok diberi tugas wawancara penjual bunga, penjual warung kopi, tukang becak, mahasiswa/mahasiswi, pedagang kaki lima, dan petugas kebersihan.
"Anak-anak berekreasi sambil menggali informasi melalui pembelajaran menjadi jurnalis cilik. Pembelajaran berorientasi pada enjoy and fun, tanpa mengurangi hakiki dari pembelajaran aplikasi," kata Ichwan.
sumber: sini
Senin, 25 Juli 2011
Pendidikan Harus Mengubah Mental Siswa Menjadi Entrepreneur
Les Privat FisMat-C -- NUSA DUA - Pendidikan di Indonesia harus mampu mengubah cara pandang yang semula bekerja sebagai pegawai, menjadi wirausaha. Perubahan ini harus ditanamkan sejak anak-anak memasuki sekolah tingkat taman kanak-kanak.
Pengusaha senior Ciputra mengemukakan hal itu kepada wartawan, seusai menjadi pembicara dalam Pertemuan Kewirausahaan Regional di Nusa Dua, Bali, Sabtu (23/7). Dalam pertemuan yang diselenggarakan Global Entrepreneur Program (GEP) bermitra dengan Global Entrepreneur Program Indonesia (GEPI), hadir wirausaha dari Indonesia dan 11 investor dari Amerika Serikat yang tergabung dalam Angel Investor.
Ciputra yang tercatat sebagai salah seorang pendiri GEPI berpendapat, saat ini, seorang anak yang duduk di TK justru diajar untuk selalu patuh. Anak itu tidak diajarkan berpikir kreatif. Akibatnya, pikiran untuk selalu menurut terbawa hingga dewasa. ”Maka dari itu, cara pandang harus diubah menjadi bagaimana cara menjadi wirausaha mandiri yang kreatif,” ujarnya.
Saat ini, jumlah wirausaha di Indonesia sekitar 450.000 orang atau sekitar 0,18 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini masih jauh dari ideal, yakni 2 persen dari jumlah penduduk. Persentase ini kalah jauh dibandingkan sengan Singapura yang wirausahanya 7,2 persen dari jumlah penduduk, Amerika Serikat sekitar 12 persen, dan Malaysia 3 persen....
Selengkapnya, baca Harian Kompas, 25 Juli 2011.
sumber: sini
Tuntaskan Nazar Pati-UI Depok Dengan "Ngonthel"
Les Privat FisMat-C -- Awalnya, perjalanan Pati-Depok dengan sepeda onthel dilakukan Muhammad Zalaluddin Sofan Fitri (19) untuk menggenapi nazar yang sudah terucap. Namun, di jalan, pria asal Blora ini justru menemukan pengalaman kemanusiaan saat bersentuhan dengan banyak orang, terutama rakyat jelata.
Nazar untuk bersepeda dari Pati ke Universitas Indonesia (UI) digenapi Zalal setelah dia diterima sebagai mahasiswa Universitas Indonesia Jurusan Sejarah Angkatan 2011. Dari SMA Negeri 1 Pati, Zalal mulai mengarahkan sepedanya ke Ibu Kota hari Selasa (19/7).
Bersama sepeda onthel warna hijau tua yang dimilikinya sejak SMA kelas 1, Zalal membawa semua pakaian dan kebutuhan untuk pendaftaran kuliah. Sebuah tas ransel besar disandangnya. Di sadel belakang, sebuah kotak bagasi dipasang untuk menaruh ban serep, makanan ringan, air minum, dan tisu. Di bawah kotak itu tertempel sebuah kertas bertuliskan ”Nadzar Diterima di UI”.
Sehelai bendera Merah Putih yang terikat di sebilah rotan dipasang di bagian belakang sepeda. Sementara sebuah pompa ban diikatkan di badan sepeda. Satu lampu tambahan terpasang di depan lampu sepeda nya.
Hari Minggu kemarin sekitar pukul 09.00, Zalal tiba di asrama mahasiswa UI. Hari Minggu pagi, sekitar 10 mahasiswa asal Pati serta simpatisan ikut nggowes bareng Zalal dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) hingga ke UI. Setibanya di kantin asrama mahasiswa, tidak ada penyambutan yang istimewa. Beberapa sesama mahasiswa asal Pati menemaninya duduk sambil menyeruput es teh. Genap sudah perjalanan sejauh sekitar 500 kilometer itu....
Selengkapnya baca Harian Kompas, 25 Juli 2011.
sumber: sini
Kemiskinan Penyebab Utama Tingginya Angka Putus Sekolah
Les Privat FisMat-C -- BANDUNG — Kementerian Pendidikan Nasional mengaku kesulitan menekan jumlah siswa miskin di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemendiknas Nono Adya Supriatno mengungkapkan, saat ini jumlah siswa miskin di Indonesia hampir mencapai 50 juta.
Jumlah tersebut terdiri dari 27,7 juta siswa di bangku tingkat SD, 10 juta siswa tingkat SMP, dan 7 juta siswa setingkat SMA. Dari jumlah itu, sedikitnya ada sekitar 2,7 juta siswa tingkat SD dan 2 juta siswa setingkat SMP yang terancam putus sekolah.
Menurut Nono, biaya sekolah yang relatif mahal ditengarai menjadi penyebab utama tidak berdayanya para siswa miskin melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. Kesulitan ini semakin berat dengan adanya keharusan membayar uang pangkal, membeli buku tulis, seragam sekolah, dan buku pelajaran. Hal-hal tersebut merupakan beberapa indikator pemicu biaya sekolah menjadi mahal.
"Siswa di SMP, hanya 23 persen yang mampu meneruskan ke tingkat SMA. Sisanya tidak bisa meneruskan, di antaranya ada yang terpaksa bekerja," ujar Nono ketika menjadi narasumber dalam lokakarya "Membedah Pembiayaan Pendidikan", Sabtu (23/7/2011) di Bandung.
Pada umum, menurut Nono, para siswa miskin berasal dari daerah rawan kemiskinan seperti daerah terpencil, pesisir pantai, perkampungan padat penduduk, serta sejumlah tempat di daerah aliran sungai. Untuk menekan angka tersebut, Nono mengaku sudah menganggarkan beasiswa Rp 2,1 triliun. Adapun di tingkat SMP dianggarkan dana Rp 3,9 triliun.
"Jumlah itu di luar anggaran dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang tahun ini mencapai Rp 16 triliun,” ujarnya.
Memengaruhi pendidikan tinggi
Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) Mustasfirin menyesalkan sulitnya menekan angka siswa putus sekolah. Semakin ironis karena secara umum tingginya angka putus sekolah di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah berpengaruh pada jumlah siswa yang akan melanjutkan ke bangku perkuliahan. Ia menegaskan, pendidikan menengah menjadi sangat penting untuk menunjukkan tiga hal. Pertama, sebagai penunjang kebangkitan kelas menengah. Kedua, sebagai pondasi pendidikan. Ketiga, sebagai wujud realisasi pembangunan pendidikan itu sendiri.
"Jadi kita sulit bicara mengenai pendidikan tinggi yang bermutu kalau pendidikan menengah tidak diperhatikan," kata Mustasfirin.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dikti Kemdiknas Haris mengungkapkan, pihaknya selalu berharap mempunyai kualitas pendidikan tinggi sekelas Amerika. Namun, biaya pendidikan di Indonesia yang dinilainya masih sangat murah memengaruhi mutu dan daya saing Dikti. Selain itu, biaya yang murah juga menjadi kendala untuk maju.
"Jika pakai sentimental, saya juga ingin nangis dengan kondisi ini. Menggantung harapan menginjak bumi. Mencerdaskan bangsa itu cita-cita dan kita bergerak ke arah sana. Saya prihatin karena anak miskin sudah gugur di pendidikan menengah," tandasnya.
Sehari sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, pendidikan yang bermutu harus ditunjang biaya yang sesuai. Pembiayaan pendidikan yang mahal, murah, ataupun gratis bukanlah sebuah masalah. Yang terpenting adalah tidak berimplikasi pada hak-hak dasar.
"Taruhlah wajib belajar 9 tahun, ada indikasi hak dasar. Oleh karena itu, kementerian dan pemerintah daerah harus lebih serius tangani hak-hak dasar. Pasalnya, jika biaya ini sampai di luar batas, hal itu akan berimplikasi dan mulai terkait dengan hak dasar itu sendiri," ujarnya.
sumber: sini
Sabtu, 23 Juli 2011
Pembahasan Soal SIMAK UI 2011 (no. 25 kode soal: 615)
Elektron bermuatan e bermassan m dipercepat dengan potensial V dan menumbuk partikel lain sehingga arah kecepatan elektron menyimpang 60o dari arah semula. diketahui konstanta planck h. Panjang gelombang de Broglie setelah hamburan adalah....
jawab
jawab
Jawaban selengkapnya ada disini
Pembahasan Soal SIMAK UI 2011 (no. 25 kode soal: 615)
Elektron bermuatan e bermassan m dipercepat dengan potensial V dan menumbuk partikel lain sehingga arah kecepatan elektron menyimpang 60o dari arah semula. diketahui konstanta planck h. Panjang gelombang de Broglie setelah hamburan adalah....
jawab
jawab
Jawaban selengkapnya ada disini
Jumat, 22 Juli 2011
UI Memperoleh Penghargaan di Ajang TEIMUN Eropa
Les Privat FisMat-C -- DEPOK - Universitas Indonesia (UI) memperoleh penghargaan di ajang The European Internasional Model United Nations (TEIMUN) yang berlangsung pada 11-17 Juli 2011 di ROC Mondriaan, The Hague, Belanda.
"Kemenangan mahasiswa UI dalam berbagai kompetisi internasional merupakan salah satu wujud kontribusi UI dalam mengharumkan nama Indonesia di forum internasional melalui beragam pencapaian," kata Kepala Kantor Komunikasi UI, Vishnu Juwono di Depok, Kamis (21/7).
Untuk itu, UI mendukung berbagai kegiatan mahasiswa baik dalam bidang akademis maupun nonakademis yang bersifat nasional atau internasional. Ketujuh mahasiswa UI berhasil memenangkan empat penghargaan untuk bangsa Indonesia di antara 200 peserta berasal lebih dari 50 Negara.
Vishnu mengatakan dengan tema 'Defining the Future of Global Governance', penghargaan yang diperoleh yaitu Best Delegate of General Assembly oleh Hanifah Ahmad (FISIP). Selanjutnya Best Delegate of Economic and Social Council oleh Rizki Yuniarini (FISIP), Best Delegate of Historical Council oleh Dian Aditya Ning Lestari (FISIP).
Selain itu, juga Honorable Mention of Security Council oleh Niwa Rahmad Dwitama (FISIP). Adapun delegasi UI untuk TEIMUN 2011 terdiri dari 3 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP), 2 mahasiswa Fakultas Hukum (FH) dan 2 mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE).
TEIMUN 2011 membuka wawasan para peserta untuk memecahkan permasalahan dunia dengan menciptakan sistem pemerintahan global yang menjadi penyokong kerja sama antar negara dalam mencari solusinya.
Dikatakannya selain UI, beberapa Universitas yang memperoleh penghargaan dari ajang TEIMUN 2011 di antaranya adalah National University of Singapore, University of Groningen (The Netherlands), University of Capetown (South Africa), University of Antwerp (Belgia), University of Southampton (UK) dan University of Namibia.
TEIMUN merupakan salah satu Model United Nations (MUN) tertua di Eropa untuk para mahasiswa di berbagai belahan dunia. Melalui TEIMUN para mahasiswa dapat belajar mengenai organisasi internasional, seperti PBB dan NATO dan memperoleh gambaran mengenai pola kerja dan proses pengambilan keputusan melalui peran bermain simulasi PBB.
"Dalam TEIMUN, para mahasiswa akan memperoleh jaringan profesional dan interaksi sosial antara delegasi dari berbagai Negara," katanya.
sumber: sini
"Kemenangan mahasiswa UI dalam berbagai kompetisi internasional merupakan salah satu wujud kontribusi UI dalam mengharumkan nama Indonesia di forum internasional melalui beragam pencapaian," kata Kepala Kantor Komunikasi UI, Vishnu Juwono di Depok, Kamis (21/7).
Untuk itu, UI mendukung berbagai kegiatan mahasiswa baik dalam bidang akademis maupun nonakademis yang bersifat nasional atau internasional. Ketujuh mahasiswa UI berhasil memenangkan empat penghargaan untuk bangsa Indonesia di antara 200 peserta berasal lebih dari 50 Negara.
Vishnu mengatakan dengan tema 'Defining the Future of Global Governance', penghargaan yang diperoleh yaitu Best Delegate of General Assembly oleh Hanifah Ahmad (FISIP). Selanjutnya Best Delegate of Economic and Social Council oleh Rizki Yuniarini (FISIP), Best Delegate of Historical Council oleh Dian Aditya Ning Lestari (FISIP).
Selain itu, juga Honorable Mention of Security Council oleh Niwa Rahmad Dwitama (FISIP). Adapun delegasi UI untuk TEIMUN 2011 terdiri dari 3 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP), 2 mahasiswa Fakultas Hukum (FH) dan 2 mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE).
TEIMUN 2011 membuka wawasan para peserta untuk memecahkan permasalahan dunia dengan menciptakan sistem pemerintahan global yang menjadi penyokong kerja sama antar negara dalam mencari solusinya.
Dikatakannya selain UI, beberapa Universitas yang memperoleh penghargaan dari ajang TEIMUN 2011 di antaranya adalah National University of Singapore, University of Groningen (The Netherlands), University of Capetown (South Africa), University of Antwerp (Belgia), University of Southampton (UK) dan University of Namibia.
TEIMUN merupakan salah satu Model United Nations (MUN) tertua di Eropa untuk para mahasiswa di berbagai belahan dunia. Melalui TEIMUN para mahasiswa dapat belajar mengenai organisasi internasional, seperti PBB dan NATO dan memperoleh gambaran mengenai pola kerja dan proses pengambilan keputusan melalui peran bermain simulasi PBB.
"Dalam TEIMUN, para mahasiswa akan memperoleh jaringan profesional dan interaksi sosial antara delegasi dari berbagai Negara," katanya.
sumber: sini
Langganan:
Postingan (Atom)





